Jakarta – Kesenjangan antara pesatnya pembangunan infrastruktur digital dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten menjadi sorotan utama dalam laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 yang dirilis Rabu (15/7/2026).
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pilar SDM menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan skor sebesar 2,5 poin, di tengah perbaikan hampir seluruh indikator digital lainnya di Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa laju transformasi teknologi di lapangan belum mampu diimbangi oleh kapasitas talenta digital nasional untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi tersebut.
Padahal, integrasi kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan mampu mendongkrak produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 12 persen atau setara Rp 6.612 triliun.
Pencapaian potensi ekonomi tersebut sangat bergantung pada kesiapan SDM dalam mengembangkan serta memanfaatkan teknologi AI secara produktif.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan investasi riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia masih sangat minim, yakni hanya mencapai 0,3 persen dari PDB.
Angka tersebut tercatat jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara yang saat ini memimpin dalam pengembangan teknologi AI secara global.
Kesenjangan kapasitas digital juga masih terlihat sangat lebar antarwilayah di Tanah Air.
Skor SDM digital di Pulau Jawa saat ini tercatat 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Jarak tersebut bahkan mencapai hampir tiga kali lipat jika dibandingkan dengan wilayah Maluku dan Papua.
Menurut laporan tersebut, tantangan di wilayah Indonesia Timur kini bergeser dari sekadar ketersediaan tenaga kerja menjadi penguatan kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan industri.
Fenomena ini terjadi saat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 229,4 juta jiwa dengan aktivitas ekonomi digital yang terus meningkat.
Pemanfaatan media sosial untuk kegiatan bisnis oleh pelaku usaha melonjak signifikan sebesar 20,7 poin.
Sektor jasa keuangan pun turut mencatat pertumbuhan sebesar 7,9 persen, yang merefleksikan semakin dalamnya inklusi keuangan digital di masyarakat.
CEO MySkill, Angga Fauzan, menekankan bahwa tantangan utama terletak pada pemerataan akses informasi dan kemampuan untuk menerjemahkan teknologi menjadi pengetahuan praktis.
“Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru,” ujar Angga sebagaimana dikutip dari keterangan pers, Kamis (15/7/2026).
Dia menambahkan bahwa proses adaptasi kurikulum pendidikan formal yang lambat terhadap kebutuhan dunia kerja menciptakan skill gap atau kesenjangan keterampilan yang nyata.
Untuk mengatasi hal tersebut, Angga menilai platform edutech dan program pelatihan intensif dapat menjadi jembatan yang lebih adaptif bagi para talenta.
Partner East Ventures, Melisa Irene, menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi digital yang cukup kokoh.
“Dengan talenta yang kompetitif, Indonesia tidak hanya dapat menjadi pasar bagi teknologi digital, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global,” kata Melisa dalam laporan tersebut.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk mempercepat proses upskilling dan reskilling.
Secara umum, EV-DCI 2026 mencatat kemajuan signifikan dengan kenaikan skor daya saing digital di 37 dari 38 provinsi di Indonesia.
Median skor nasional meningkat dari 38,8 pada tahun 2025 menjadi 42,2 pada tahun 2026.
Meskipun demikian, disparitas skor yang mencapai hampir 60 poin antara provinsi dengan daya saing tertinggi dan terendah menunjukkan bahwa wilayah yang sudah maju masih bergerak jauh lebih cepat dibandingkan daerah tertinggal.






















