Yield SUN Berpotensi Naik, Lonjakan Yield US Treasury Masih Membayangi

persen

Yield SUN Berpotensi Naik, Lonjakan Yield US Treasury Masih Membayangi

Jakarta – Pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia saat ini menghadapi tekanan jual yang signifikan akibat sentimen negatif dari pasar keuangan global.

Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya imbal hasil atau yield pada mayoritas seri benchmark SUN di pasar sekunder.

Tekanan ini dipicu oleh kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.

Selain itu, ketegangan geopolitik dunia yang memanas turut memperburuk suasana investasi.

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah harga minyak mentah global yang konsisten bertahan di atas level US$ 80 per barel.

Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto mengungkapkan bahwa kenaikan yield SUN merupakan kelanjutan tren dari periode sebelumnya.

Data mencatat yield SUN tenor satu tahun naik 2 basis poin (bps) menjadi 6,97%.

Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun terpantau meningkat 1 bps ke level 7,35% pada akhir Juli 2026.

“Kami menduga koreksi yang terjadi mayoritas SUN seri benchmark Indonesia dipicu oleh aksi jual investor untuk periode akhir bulan,” ujar Myrdal dalam riset yang diterima, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, aksi jual ini juga didorong oleh kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global.

Inflasi tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan suku bunga moneter secara global akibat harga minyak yang tetap tinggi.

Sentimen negatif ini juga berdampak pada meningkatnya persepsi risiko investasi di Indonesia.

Hal itu terlihat dari premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang kembali menembus level 90.

Pada 31 Juli 2026, premi CDS Indonesia tercatat berada di posisi 94,13.

Myrdal menilai kenaikan CDS menunjukkan investor global kini lebih memilih strategi risk averse terhadap aset di negara berkembang.

Di pasar sekunder, seri PBS003 dengan kupon 6,44% menjadi instrumen paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp 4,43 triliun.

Sementara di sektor obligasi korporasi, seri 5M milik Bali Towerindo Sentra mencatat volume transaksi terbesar senilai Rp 340 miliar.

Ke depan, tekanan terhadap pasar SUN diprediksi masih akan berlanjut seiring dengan tingginya tensi geopolitik.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan mendorong kenaikan yield US Treasury.

Indonesia mau tidak mau harus melakukan penyesuaian yield agar obligasi domestik tetap kompetitif bagi investor global.

Namun, selisih atau spread yield antara SUN Indonesia dan US Treasury dinilai masih cukup lebar.

Saat ini, spread yield antara SUN tenor 10 tahun dengan US Treasury tenor serupa mencapai sekitar 269 bps.

“Gap yield yang lebar antara SUN Indonesia 10 tahun dan US Treasury 10 tahun menjadi daya tarik utama bagi investor global untuk berinvestasi di emerging market yang memiliki fundamental solid, seperti Indonesia,” jelas Myrdal.

Menilik kondisi tersebut, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan akan bergerak di kisaran 7,31% hingga 7,34% dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar