Ajaib Raih Investasi Rp 4,8 Triliun, Belum Berencana Gelar IPO

Kholida Rahman

Ajaib Raih Investasi Rp 4,8 Triliun, Belum Berencana Gelar IPO

Jakarta – Platform investasi digital Ajaib Group memutuskan untuk menunda rencana penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dalam waktu dekat.

Keputusan tersebut diambil menyusul perolehan pendanaan segar senilai US$ 270 juta atau setara Rp 4,8 triliun dari perusahaan asal Jepang, SBI Holdings.

“Untuk sekarang kami belum ada rencana untuk ke IPO karena kami baru dapat dana,” kata CEO dan Co-founder Ajaib Group Anderson Sumarli dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).

Pihak manajemen memilih untuk memprioritaskan alokasi modal tersebut guna memperkuat internal perusahaan.

Fokus utama penggunaan dana segar ini mencakup pengembangan produk serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Ajaib berencana melakukan ekspansi tenaga kerja di berbagai divisi strategis.

Divisi tersebut meliputi bidang engineering, produk, bisnis, hingga operasional.

Meski saat ini telah memiliki sekitar 700 karyawan, perusahaan tidak menetapkan target kuantitatif untuk penambahan personel baru.

Prioritas utama tetap pada upaya menarik talenta-talenta berkualitas tinggi ke dalam perusahaan.

“Kami sebenarnya tidak pernah target-targetan untuk itu, tapi yang kami pastikan adalah kami melihat ada peluang besar untuk merekrut di Indonesia,” tutur Anderson.

Di samping pengembangan internal, Ajaib kini memperluas peran strategisnya di pasar modal Indonesia.

Perusahaan semakin serius menggarap lini bisnis sebagai penjamin emisi efek atau underwriter.

Langkah ini diambil untuk memfasilitasi perusahaan privat di dalam negeri agar mendapatkan akses lebih luas ke pasar modal.

Sepanjang 12 bulan terakhir, Ajaib tercatat telah membantu sekitar 20 perusahaan melakukan IPO melalui mekanisme e-IPO.

Layanan ini dianggap krusial untuk membuka partisipasi investor ritel dalam penawaran saham perdana.

Anderson menegaskan bahwa keterlibatan Ajaib bertujuan menjembatani perusahaan yang sedang berkembang dengan basis investor ritel yang kian masif.

Saat ini, terdapat sejumlah perusahaan yang masuk dalam daftar tunggu (pipeline) untuk melantai di bursa saham melalui bantuan Ajaib.

Meskipun identitas perusahaan tersebut belum dibuka, sebagian besar diproyeksikan akan melakukan pencatatan saham pada tahun depan.

“Ya kemungkinan listing-nya tahun depan yang ada di pipeline. Sepertinya seperti itu,” ungkap Anderson.

Strategi ini juga selaras dengan misi perusahaan dalam mendorong inklusi keuangan bagi generasi muda.

Ajaib ingin masyarakat luas, khususnya investor muda, turut menikmati pertumbuhan ekonomi nasional melalui kepemilikan saham.

Menurut Anderson, partisipasi aktif investor ritel domestik menjadi kunci ketahanan pasar modal Indonesia.

Ketika investor asing melakukan aksi jual, investor domestik dinilai justru semakin agresif masuk ke pasar.

“Begitu asing keluar, malahan ritel domestik masuk,” jelasnya.

Hingga saat ini, Ajaib telah mencatatkan sekitar tujuh juta akun pengguna aktif.

Perusahaan menargetkan pertumbuhan basis pengguna hingga mencapai 28 juta akun dalam tiga tahun ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar