Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026).
Pelemahan ini sekaligus menjadi penutup catatan kinerja mata uang Garuda sepanjang bulan Agustus.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot berakhir di level Rp 17.722 per dolar AS.
Posisi tersebut mencerminkan koreksi sebesar 0,15% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level Rp 17.693 per dolar AS.
Tren negatif juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia.
Rupiah tercatat berada di level Rp 17.746 per dolar AS, melemah 0,24% dari posisi sebelumnya di angka Rp 17.703 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipicu oleh sentimen global terkait kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar merespons negatif pernyataan hawkish Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh, yang disampaikan pada Jumat (28/8).
Warsh menegaskan bahwa bank sentral AS masih memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan inflasi kembali ke tingkat target.
Pernyataan tersebut memicu lonjakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September menjadi sekitar 60%.
Probabilitas tersebut merujuk pada data yang dirilis oleh CME FedWatch.
Analis Mata Uang Senior MUFG, Lloyd Chan, menyatakan bahwa narasi pasar saat ini telah bergeser secara signifikan.
“Narasi pasar kemungkinan telah bergeser menuju pertanyaan apakah inflasi masih cukup persisten untuk mendorong pengetatan kebijakan,” ujar Chan.
Menurut Chan, perubahan ekspektasi ini membalikkan optimisme pasar sebelumnya terhadap pelonggaran kebijakan moneter AS.
Ia menyoroti bahwa rupiah dan baht Thailand menjadi dua mata uang yang paling rentan terdampak sentimen tersebut.
Kenaikan imbal hasil Treasury AS dinilai berpotensi menyedot aliran dana keluar dari pasar negara berkembang.
Situasi ini semakin diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah yang menekan negara-negara pengimpor energi di Asia.
Secara regional, mayoritas mata uang negara berkembang di Asia turut mengalami tekanan pada hari ini.
Indeks mata uang negara berkembang global MSCI bahkan sempat turun tipis dan mengakhiri reli selama delapan sesi beruntun.
Meski demikian, indeks tersebut masih mencatatkan kenaikan sekitar 1,6% sepanjang bulan Agustus 2026.
Pergerakan nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada rilis data tenaga kerja dan inflasi AS.
Investor kini menanti data ekonomi tersebut sebagai acuan utama dalam memproyeksikan langkah lanjutan The Fed.
Kondisi pasar keuangan domestik diprediksi akan tetap volatil di awal September akibat ketidakpastian kebijakan global.
Bank sentral dan pelaku pasar akan terus memantau perkembangan imbal hasil obligasi AS tenor pendek sebagai indikator kunci.














