Jakarta – Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diprediksi akan bergerak pada rentang 7,10% hingga 7,25% dalam perdagangan hari ini, Rabu (30/9/2026).
Proyeksi ini muncul sebagai respons pasar terhadap dinamika lelang Surat Utang Negara (SUN) yang mengalami penurunan permintaan signifikan.
Sentimen negatif juga datang dari tekanan eksternal, terutama akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Pemerintah sebelumnya telah menggelar lelang SUN pada Selasa (29/9/2026) dengan hasil yang menunjukkan adanya moderasi minat investor.
Data menunjukkan total penawaran masuk (incoming bids) hanya mencapai Rp 42,8 triliun, angka tersebut turun drastis dibandingkan lelang sebelumnya yang menembus Rp 60,9 triliun.
Kementerian Keuangan memutuskan untuk memenangkan penawaran sebesar Rp 28,8 triliun, jumlah yang berada di bawah target indikatif yang dipatok pemerintah sebesar Rp 30,0 triliun.
Seri FR0110 menjadi instrumen yang paling diminati dengan total penawaran Rp 12,9 triliun, di mana pemerintah memenangkan Rp 9,5 triliun dengan tingkat yield 7,09%.
Sementara itu, seri FR0111 mencatatkan penawaran sebesar Rp 5,4 triliun dan dimenangkan sebanyak Rp 4,6 triliun pada level yield 7,25%.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pergerakan yield SUN di pasar sekunder, khususnya untuk segmen menengah hingga panjang.
Tenor 5 tahun tercatat naik 7,9 basis poin (bps) ke level 7,08%, sementara tenor 10 tahun naik 4,6 bps menjadi 7,15%.
Aktivitas perdagangan di pasar sekunder didominasi oleh tiga seri utama, yakni FR0110, FR0111, dan PBS003 dengan total volume transaksi yang substansial.
Dari sisi mata uang, rupiah mengalami tekanan depresiasi sebesar 0,42% ke level Rp 17.987 per dolar AS.
Mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam perdagangan intraday akibat tingginya permintaan dari importir.
Sentimen risk-off global serta indeks dolar AS (DXY) yang bertahan di level 101,3 terus memberikan tekanan pada pasar domestik.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan, menyatakan bahwa pergerakan imbal hasil SBN sangat dipengaruhi oleh kombinasi dinamika pasar global dan domestik.
“Mencermati perkembangan terkini di pasar global maupun domestik, kami memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bergerak di rentang 7,10% hingga 7,25% untuk hari ini,” ujar Ridwan dalam risetnya, Rabu (30/9/2026).
Di pasar global, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 2,0 bps ke level 5,26% menjadi faktor kunci yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Risiko inflasi dan kebijakan suku bunga tetap menjadi fokus utama investor, meskipun data lowongan kerja AS (JOLTS) Agustus 2026 menunjukkan penurunan ke angka 7,07 juta.
Untuk strategi perdagangan hari ini, Ridwan menyarankan investor untuk mencermati beberapa seri SBN, di antaranya PBS003, FR0090, FR0087, FR0104, dan FR0093.


















