Jakarta – Sektor perbankan tanah air berpeluang mendapat angin segar menyusul prediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan. Stabilitas BI rate ini dinilai menjadi katalis positif bagi industri perbankan untuk memaksimalkan transmisi kebijakan moneter sekaligus meredakan tekanan pada margin keuntungan.
Hingga perdagangan Jumat (17/4), saham emiten perbankan besar masih mencatatkan koreksi harga sepanjang tahun berjalan (year to date). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penurunan terdalam sebesar 20,43% ke level Rp 6.425 per saham. Tren serupa juga dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 15,1%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 9,41%, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 6,28%.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai fundamental sektor perbankan tetap solid. Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan berada di kisaran high single digit hingga low double digit, didorong oleh pemulihan permintaan dari segmen konsumsi dan korporasi.
Di sisi lain, manajemen BCA menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap prospek jangka panjang perusahaan melalui aksi borong saham. Sepanjang Maret lalu, lima direksi dan satu komisaris BBCA telah mengakumulasi jutaan lembar saham. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, tercatat menambah kepemilikan saham senilai Rp 7,93 miliar. Aksi serupa juga dilakukan Wakil Presiden Direktur John Kosasih, serta jajaran direktur dan komisaris lainnya.
Secara kinerja, BCA mencatatkan hasil yang cemerlang dengan laba bank only per Februari 2026 mencapai Rp 9,2 triliun, tumbuh 2,81% secara tahunan. Selain aksi beli manajemen, BCA juga berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026 sebagai upaya menjaga kepercayaan investor.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebutkan bahwa pasar sebenarnya telah mengantisipasi stabilitas suku bunga di tengah kondisi rupiah yang masih lemah dan volatilitas pasar yang tinggi. Meski harga saham perbankan besar sedang tertekan, valuasi mereka kini dinilai semakin menarik.
Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada kisaran price to earning ratio (PER) sekitar 15 kali, jauh lebih rendah dibandingkan bank digital seperti Bank Jago (ARTO) yang berada di level PER 64 kali. Para analis optimistis terhadap prospek harga saham bank-bank besar, dengan target harga BBCA dipatok hingga mencapai Rp 9.600 oleh Pilarmas Investindo Sekuritas dan Rp 6.800 oleh Republik Investor.



















