Jakarta – Kinerja emiten di bawah naungan Danantara dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup kuat di tengah lesunya pasar saham domestik. Hingga saat ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi sebesar 29,11 persen secara year to date (YTD).
Berbeda dengan IHSG, indeks IDXBUMN20 yang menghimpun saham-saham perusahaan pelat merah tercatat hanya terkoreksi sebesar 11,73 persen YTD. Meski mencatatkan penurunan, performa indeks BUMN ini dinilai relatif lebih baik dibandingkan dengan indeks pasar secara keseluruhan.
Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, menjelaskan bahwa penurunan IHSG yang lebih tajam dipicu oleh koreksi besar pada saham-saham konglomerasi akibat sentimen pasar dan tekanan dari MSCI. Menurutnya, tekanan jual yang terjadi saat ini bersifat menyeluruh, sehingga saham BUMN pun tidak terelakkan dari koreksi pasar.
Di sisi lain, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa tekanan pada IDXBUMN20 didorong oleh aksi jual investor asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan BUMN, termasuk peran Danantara dan potensi penyesuaian alokasi dividen.
Harry menegaskan bahwa koreksi harga ini justru membuka peluang bagi investor untuk melakukan selective buying. Investor disarankan untuk menyasar emiten BUMN yang memiliki fundamental kokoh, visibilitas dividen yang jelas, serta katalis pertumbuhan yang konkret.
Kondisi fundamental emiten BUMN sepanjang 2026 diprediksi masih akan menghadapi tantangan dari pelemahan kurs rupiah, kenaikan harga komoditas minyak, hingga kebijakan suku bunga tinggi dari Bank Indonesia. Sektor perbankan dan komoditas masih menjadi andalan karena rekam jejak dividend payout ratio (DPR) yang tinggi.
Selain kedua sektor tersebut, sektor telekomunikasi dinilai cukup prospektif. Sementara itu, emiten di sektor farmasi, semen, serta konstruksi BUMN karya dinilai masih menghadapi tantangan berat akibat sentimen pelemahan rupiah dan kenaikan biaya operasional.
Untuk sisa tahun 2026, prospek emiten BUMN dipandang masih bersifat mixed. Valuasi yang kini jauh lebih murah dan potensi belanja pemerintah menjadi sentimen positif, namun risiko ketidakpastian kebijakan serta intervensi tetap perlu diwaspadai.
Harry merekomendasikan opsi beli untuk beberapa emiten dengan prospek recurring income dan pemulihan operasional yang jelas, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 3.700, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target Rp 4.476, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target Rp 1.081 per saham.




















