Jakarta – Upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kini dibayangi ketidakpastian menyusul eskalasi militer terbaru di kawasan Teluk Persia. Meski kedua negara tengah merundingkan kesepakatan damai di Doha, pasar energi global kembali bereaksi negatif setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran selatan.
Serangan tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia pada perdagangan Selasa (26/5). Minyak mentah Brent tercatat menguat 1,5 persen ke level US$97,56 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$91,25 per barel.
Komando Pusat Militer AS menyatakan, operasi tersebut merupakan langkah defensif untuk melindungi pasukan mereka dari ancaman militer Iran. Target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal serta kapal yang diduga hendak memasang ranjau di perairan tersebut.
Di sisi lain, negosiasi damai yang berlangsung di Qatar memberikan secercah harapan bagi stabilitas jalur pelayaran internasional. Iran dikabarkan bersedia membersihkan ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari sebagai bagian dari nota kesepahaman untuk menghentikan konflik.
Analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai pelaku pasar saat ini tengah berspekulasi mengenai potensi terobosan diplomatik tersebut. “Trader bertaruh besar bahwa terobosan akhirnya akan membebaskan kapal tanker yang lama terjebak di sekitar Selat Hormuz,” ujar Waterer.
Optimisme pasar sempat menguat setelah data pelacakan kapal menunjukkan beberapa tanker gas alam cair dan minyak mentah mulai berhasil melintasi Selat Hormuz menuju sejumlah negara tujuan.
Namun, prospek perdamaian ini masih rentan. Pasar tetap waspada terhadap risiko kegagalan negosiasi, terutama setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan tuntutan agar Iran menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya untuk dimusnahkan.
Hingga saat ini, ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama dunia, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur vital bagi seperlima arus minyak dan gas global. Sejak perang pecah, gangguan pelayaran di kawasan ini telah mendorong lonjakan harga energi hingga lebih dari 50 persen.























