Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif sepanjang periode perdagangan 22 hingga 26 Mei 2026.
IHSG mengalami tekanan jual yang cukup dalam dengan total koreksi mencapai 3,61 persen dalam sepekan.
Pergerakan indeks selama lima hari perdagangan tersebut berada pada rentang level 5.830 hingga 6.227.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh laporan Market Classification Review dari MSCI Inc yang dirilis pada Rabu, 24 Juni 2026.
Meski MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang atau Emerging Markets, terdapat catatan kritis yang menyertai keputusan tersebut.
MSCI memang mengakui adanya empat reformasi pasar modal yang telah diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Namun, lembaga internasional tersebut memberikan peringatan keras terkait implementasi kebijakan yang masih memerlukan perbaikan signifikan.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan investor global adalah minimnya transparansi terkait struktur kepemilikan saham di bursa domestik.
Masalah keterbukaan ini dinilai menyulitkan investor dalam mengukur jumlah saham free float yang tersedia di pasar.
Ketidakpastian tersebut berpotensi menggerus kepercayaan investor terhadap validitas pembentukan harga di pasar modal Indonesia.
MSCI bahkan memberikan sinyal ancaman penurunan peringkat Indonesia dari Emerging Markets ke kategori pasar negara perintis atau Frontier Markets jika perbaikan tata kelola tidak segera dilakukan.
Respons pasar terhadap rilis tersebut cukup signifikan, di mana IHSG langsung merosot 217,45 poin atau 3,56 persen ke level 5.883,88 pada hari pengumuman.
Tren pelemahan tersebut terus berlanjut hingga akhir pekan, dengan penutupan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, yang berakhir di level 5.896,13 setelah terkoreksi 1,72 persen.
Pola transaksi sepekan ini didominasi oleh investor domestik dengan kontribusi mencapai 69 persen, sementara investor asing hanya menyumbang 31 persen.
Aksi jual bersih atau net sell investor asing tercatat mencapai Rp3,43 triliun, melonjak tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya sebesar Rp904,07 miliar.
Total nilai jual yang dilakukan investor asing menyentuh angka Rp28,95 triliun, jauh melampaui nilai beli mereka yang hanya Rp25,52 triliun.
Di tengah tekanan indeks, sejumlah saham mencatatkan performa positif dengan kenaikan di atas 20 persen.
PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) memimpin daftar top gainers dengan penguatan 60 persen ke level Rp2.080.
Posisi berikutnya diikuti oleh PT Pratama Widya Tbk (PTPW) yang menguat 42,71 persen ke Rp1.370.
Saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) juga mencatat kenaikan sebesar 34,23 persen ke Rp400.
Sebaliknya, tekanan jual yang masif membuat sejumlah saham mengalami penurunan tajam hingga melampaui 18,9 persen.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memimpin daftar top losers dengan pelemahan 25,45 persen menjadi Rp1.040.
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyusul dengan koreksi sebesar 24,55 persen ke level Rp498.
Seluruh data transaksi dan pergerakan harga ini menunjukkan tingginya volatilitas pasar modal Indonesia seiring dengan kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan status pasar di mata global.






















