Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif sepanjang pekan ini dengan koreksi sebesar 6,63 persen. Indeks ditutup pada level 6.162,05 pada Jumat, 22 Mei 2026, setelah sempat dibuka di posisi 6.599,24 pada Senin, 18 Mei 2026.
Meski sempat menyentuh titik terendah tahun ini di level 5.976,07 pada perdagangan Jumat pagi, pasar berhasil bangkit dengan mencatat rebound sebesar 1,1 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan ini dengan optimistis. Menurutnya, IHSG diprediksi akan kembali menguat pada pekan depan seiring dengan perbaikan fundamental ekonomi nasional. Purbaya meminta para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak khawatir terhadap fluktuasi jangka pendek.
Sementara itu, Penjabat sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Kondisi pasar Asia yang terkoreksi selama libur panjang turut memberikan tekanan pada bursa dalam negeri.
Ketidakpastian global yang masih membayangi pasar di antaranya fluktuasi harga komoditas, pergerakan nilai tukar, serta konflik di Timur Tengah. Jeffrey mengimbau investor untuk tetap fokus pada fundamental, melakukan analisis cermat, serta menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
Selain sentimen global, tekanan terhadap IHSG juga datang dari aksi rebalancing saham oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Langkah MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks global menjadi salah satu katalis negatif yang memengaruhi pergerakan pasar.
Sentimen lainnya muncul sebelum pengumuman pembentukan entitas baru BUMN yang mengendalikan ekspor komoditas sumber daya alam, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Akibatnya, saham-saham di sektor pertambangan, minyak dan gas, serta perkebunan kelapa sawit mengalami penurunan harga yang cukup signifikan sepanjang pekan ini.





















