Jakarta – Kebijakan injeksi likuiditas sebesar Rp 200 triliun oleh pemerintah ke bank-bank Himbara berhasil memulihkan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia. Pasar modal menjadi sektor yang paling cepat merespons sentimen positif ini.
Penguatan pasar saham menjadi indikasi utama keberhasilan kebijakan tersebut. Kartika Sutandi, Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, menyebut injeksi likuiditas sebagai “fresh breath” bagi pasar.
Langkah pemerintah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun ke Himbara diambil tak lama setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dilantik pada September 2025.
Menurut Kartika, yang akrab disapa Tjoe Ay, kebijakan ini memberikan dampak signifikan saat pelaku pasar melakukan *roadshow* ke investor asing.
Sebelumnya, investor asing sempat dilanda kebingungan dan kecemasan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, bahkan nilai tukar rupiah sempat melemah. Namun, sinyal tegas pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal berhasil meyakinkan investor.
“Awalnya orang asing itu bingung, ‘kok semuanya ini hilang?’ Padahal sebenarnya Indonesia itu dicintai karena stabilitasnya,” ungkap Tjoe Ay.
Kini, Indonesia kembali masuk dalam rekomendasi *overweight* sejumlah pelaku pasar global, bahkan setelah valuasi pasar mengalami kenaikan.
Perubahan sentimen ini tidak terjadi secara instan. Investor asing perlahan mulai mendengarkan kembali narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan kredibilitas kebijakan pemerintah menjadi kunci utama.
Komitmen pemerintah untuk tetap menjaga defisit anggaran di angka 3 persen turut menenangkan pasar.
Tjoe Ay meyakini bahwa arus modal asing berpotensi kembali masuk jika likuiditas tetap terjaga dan aktivitas pasar terus meningkat. Indikasi positif terlihat dari akuisisi perusahaan sekuritas lokal oleh perusahaan jasa keuangan asal Amerika Serikat, Robinhood.
“Tapi why Indo? Negara kita kan cuma 1,3 persen di MSCI. Currency juga setahun geser, broker gede banget di AS kenapa bisa di Indo?,” pungkas Tjoe Ay.





















