Bandung – Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mendorong koperasi yang telah memiliki fondasi kuat untuk menjadi motor penggerak bagi koperasi lainnya. Langkah kolaborasi ini dinilai krusial untuk memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Meutya mencontohkan keberhasilan Koperasi Pesantren Al Ittifaq sebagai model ideal dalam membangun ekosistem ekonomi dari hulu ke hilir. Menurutnya, praktik baik yang dijalankan koperasi tersebut mencakup integrasi produksi, pengolahan, hingga distribusi yang berkelanjutan.
“Koperasi yang sudah kuat harus membantu koperasi lain agar tumbuh bersama. Ini bukan soal kompetisi, melainkan kolaborasi untuk memperkuat ekonomi kerakyatan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (26/4).
Ia menegaskan, kunci keberhasilan ekosistem tersebut terletak pada ketekunan, keikhlasan, dan sistem yang terorganisir dengan baik. Fondasi ini dinilai sangat penting dalam membangun Koperasi Merah Putih yang tangguh di masa depan.
Dalam upaya memperkuat daya saing, Meutya menekankan pentingnya digitalisasi yang tepat guna. Teknologi yang diterapkan harus mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi serta produktivitas koperasi secara signifikan.
Selain itu, ia menyoroti peluang besar dalam mengintegrasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam ekosistem koperasi. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok pangan nasional secara luas.
“Saat program MBG terhubung dengan ekosistem koperasi, dampaknya akan dirasakan oleh banyak pihak, mulai dari petani, peternak, hingga distribusi pangan nasional,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya memberikan apresiasi kepada seluruh elemen pesantren, terutama para petani, peternak, dan generasi muda. Ia menyebut mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan pangan sekaligus pilar utama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat.





















