Mataram – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna memulai pendampingan pengelolaan sampah terpadu di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (12/5).
Program ini difokuskan untuk menekan timbulan sampah pesisir sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca lewat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.
Inisiatif yang berada di sekitar proyek gasifikasi PLTMGU Lombok Peaker itu melibatkan pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan PLN Group.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia, Mamit Setiawan, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan dalam mendorong kawasan wisata pesisir yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Program ini merupakan bagian dari komitmen TJSL PLN EPI dalam mendukung pengembangan wisata pesisir yang bersih, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kami ingin menghadirkan dampak nyata tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi peningkatan kapasitas dan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Mamit menjelaskan, meningkatnya aktivitas wisata di kawasan pesisir juga ikut memicu kenaikan volume sampah. Karena itu, pengelolaan sampah perlu dilakukan secara lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Untuk itu, PLN EPI bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna menjalankan sejumlah langkah, mulai dari pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik, penguatan kelembagaan Pokdarwis, pengembangan budidaya maggot, hingga penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah terpadu.
“Program ini juga menjadi upaya bersama dalam mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk organik maupun budidaya maggot,” katanya.
Manajer PLN UP3 Mataram, Hengky Purbo Lesmono, mengatakan keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari tersedianya infrastruktur energi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan lingkungan sekitar.
“PLN UIW NTB memiliki komitmen kuat untuk terus hadir sebagai perusahaan yang tidak hanya menyediakan listrik yang andal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi sosial dan lingkungan di tengah masyarakat,” ujar Hengky.
Lurah Tanjung Karang Permai, Nani Nurkomala, menilai persoalan sampah di kawasan wisata pesisir memerlukan keterlibatan semua pihak karena berkaitan langsung dengan kebersihan dan kenyamanan wisatawan.
“Sekecil apa pun upaya kita dalam mengelola sampah akan sangat berarti. Kita semua adalah penghasil sampah, sehingga kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik,” kata Nani.
Ia menambahkan, edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik harus terus digencarkan agar volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) bisa ditekan.
Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa, menyebut Mataram pada 2025 menghasilkan sekitar 311 ton sampah per hari. Sebagian besar di antaranya masih bergantung pada TPA.
“Dari 311 ton itu, lebih dari 70 persen masih mengandalkan TPA. Hanya sekitar 28 persen yang bisa dikelola oleh masyarakat dan pemerintah kota. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.
Menurut I Made Wibisana, pengelolaan sampah dari hulu menjadi langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus menekan emisi gas rumah kaca, terutama gas metana dari timbunan sampah.
“Kegiatan ini sangat mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan gas metana dari sampah yang menumpuk di TPA. Pengolahan sampah menjadi salah satu langkah nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim,” katanya.
Ketua Pokdarwis Bagek Kembar, H. Sukendi, mengapresiasi dukungan PLN EPI dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna dalam memperkuat pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar.
“Program ini sangat membantu masyarakat dan pelaku wisata di kawasan pesisir. Kami berharap edukasi dan pendampingan seperti ini terus berlanjut agar masyarakat semakin sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat menjaga lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi,” ujar H. Sukendi.
Program pengelolaan sampah terpadu ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG), terutama melalui pengurangan emisi, penguatan ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.



















