Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia kini menghadapi ancaman serius terkait keberlanjutan produksi akibat menipisnya stok bahan baku plastik yang diperkirakan hanya bertahan untuk dua bulan ke depan. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan lonjakan harga bahan baku yang dipicu oleh ketidakpastian rantai pasok energi global.
Direktur Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa meskipun ketersediaan stok saat ini masih mencukupi, tantangan utama yang dihadapi adalah kenaikan harga yang tajam. Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga nafta, bahan baku utama plastik, meroket karena kawasan tersebut menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan global.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah tengah mengkaji usulan pembebasan bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk industri plastik. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan biaya produksi dan menjaga stabilitas harga di pasar domestik.
Dampak dari kenaikan harga bahan baku ini mulai dirasakan nyata oleh pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, mencatat kenaikan harga nafta mencapai 45 persen, sementara resin PET melonjak hingga 60 persen. Akibatnya, banyak pabrik kemasan terpaksa memangkas kapasitas produksi sebesar 20 hingga 30 persen, yang kemudian memicu lonjakan harga kemasan hingga 150 persen.
Kondisi ini tidak hanya menekan industri makanan dan minuman, tetapi juga berdampak pada sektor farmasi, logistik, hingga ritel. Shinta menekankan bahwa fluktuasi harga yang terjadi saat ini sudah berada di luar batas kewajaran dan berpotensi mengancam kelangsungan dunia usaha serta penyerapan tenaga kerja.
Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan, pemerintah kini melakukan diversifikasi negara pemasok. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Timur Tengah.
Pemerintah saat ini telah menjajaki kerja sama pasokan bahan baku plastik dari sejumlah negara alternatif, yakni Afrika, India, dan Amerika. Langkah ini diambil untuk mengamankan distribusi bahan baku di tengah ketatnya persaingan global dan gangguan jalur logistik internasional.





















