Jakarta – Pengalaman pahit kehilangan 95 persen nilai portofolio saat krisis finansial 2008 menjadi titik balik bagi Direktur PT MPX Logistics International Tbk (MPXL), Sunyoto Bambang Kusumo, dalam mematangkan strategi investasinya. Dari insiden yang membuatnya merasa kehilangan arah tersebut, ia kini berhasil mengelola portofolio dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menavigasi volatilitas pasar.
Perjalanan investasi Sunyoto bermula dari bangku kuliah dan semakin terasah saat ia bekerja di Astra. Awalnya, ia mengaku sering terlena oleh keuntungan jangka pendek, namun hantaman krisis 2008 menyadarkannya akan pentingnya pemahaman mekanisme pasar yang mendalam. Ia kemudian memutuskan mendalami analisis teknikal dan sistem perdagangan melalui pelatihan di Singapura pada tahun 2012.
Kini, Sunyoto menerapkan sistem Quant Trading yang terintegrasi dengan AI. Dengan bantuan teknologi, ia mampu menganalisis 150 saham hanya dalam waktu singkat setiap harinya. Ia biasanya menyeleksi tiga hingga lima kandidat saham sebelum penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 15.30 hingga 16.00 WIB. Untuk pasar Amerika Serikat, ia menyesuaikan waktu kerjanya pada dini hari.
Strategi yang ia jalankan membuahkan hasil signifikan. Sunyoto mengklaim portofolio perdagangannya mampu mencatatkan imbal hasil mencapai 126 persen dari modal dasar pada tahun ini. Untuk portofolio jangka panjang, ia tetap setia mengakumulasi saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA di pasar domestik, serta NVIDIA dan indeks S&P 500 di pasar AS.
Sunyoto menekankan pentingnya memisahkan konsep antara investasi dan trading. Menurutnya, investasi harus memiliki aset dasar (underlying) yang jelas, seperti kinerja operasional perusahaan dan pertumbuhan laba. Meski ia tidak menutup diri sebagai trader terhadap instrumen kripto, ia menegaskan bahwa aset tanpa underlying tidak bisa dikategorikan sebagai investasi jangka panjang.
Di usia matang, Sunyoto memilih mengelola aset finansial sebagai jalan menuju kebebasan finansial dan kemandirian. Ia berpesan kepada para investor agar tidak terjebak dalam euforia atau opini media sosial. Investor diharapkan selalu mencari fakta, melakukan pengujian sistem (backtesting), serta benar-benar memahami bagaimana uang bekerja sebelum mengambil keputusan.



















