Jakarta – Pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui penguatan sektor UMKM. Strategi ini difokuskan pada digitalisasi usaha serta penyaluran bantuan stimulan yang masif hingga akhir Mei 2026.
Data Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mencatat lonjakan transaksi UMKM melalui lokapasar mencapai 14.712.693 transaksi per 30 Mei 2026. Angka ini naik signifikan dari posisi awal Mei yang berada di angka 13.209.182 transaksi.
Sumatera Utara menjadi kontributor terbesar dengan 11.093.689 transaksi, diikuti Sumatera Barat sebanyak 3.524.704 transaksi, dan Aceh dengan 94.300 transaksi. Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bahwa roda ekonomi para penyintas bencana mulai kembali berputar.
Sejalan dengan digitalisasi, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan stimulan secara luas. Di Aceh, dana yang tersalurkan mencapai Rp250,745 miliar, Sumatera Utara Rp56,615 miliar, dan Sumatera Barat Rp16,835 miliar.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun untuk mendukung pengembangan usaha mikro. Dana tersebut diprioritaskan bagi pelaku usaha terdampak yang belum tersentuh layanan perbankan.
“Bantuan ini ditujukan bagi pengembangan usaha mikro yang belum memiliki akses perbankan. Targetnya mencakup sekitar 200 ribu pengusaha mikro selama dua tahun ke depan,” ujar Maman di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Sementara itu, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemulihan ekonomi menjadi prioritas strategis dalam fase pemulihan permanen yang dijadwalkan berlangsung hingga 2028.
Menurut Tito, keberhasilan pemulihan ini sangat bergantung pada konsistensi penerapan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk) di lapangan.
“Saat ini kita melakukan proses menuju pemulihan permanen melalui tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi. Kunci dari seluruh rangkaian ini adalah implementasi Renduk secara konsisten,” jelas Tito.






















