Padang – Universitas Andalas (Unand) melalui Posko Hub mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan perhatian pada kondisi kesehatan korban bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat.
Dari pemeriksaan terhadap lebih dari seribu pasien, ditemukan sejumlah penyakit dan gangguan kesehatan yang rentan dialami korban.
Ketua Program Tanggap Bencana Unand, Muhammad Riendra, menjelaskan bahwa Posko Hub dibentuk sebagai respons terhadap bencana yang melanda Sumbar.
Unand menerjunkan tim multidisiplin dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), termasuk tim kesehatan untuk membantu masyarakat selama masa tanggap darurat.
“Kondisi masyarakat saat ini menunjukkan kerentanan kesehatan yang serius, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak,” ujar Riendra, yang juga Direktur Rumah Sakit Unand, Rabu (31/12/2025).
Tim menemukan kasus ibu hamil 5 bulan dengan luka robek terinfeksi, yang juga mengalami beban psikologis karena kehilangan dua anaknya akibat galodo.
Pelayanan medis untuk anak-anak terhambat karena keterbatasan bahan habis pakai khusus anak.
“Terkadang ada anak yang kondisinya membutuhkan pemasangan infus segera,” imbuhnya.
Masalah ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas dan logistik medis di lapangan.
Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dinilai kurang, terutama akibat proses sterilisasi peralatan medis yang tidak memenuhi standar.
Stok obat-obatan standar juga menipis, dan ada kebutuhan mendesak untuk menambah variasi obat, seperti obat mata, obat kulit, dan sirup untuk pasien anak.
“Hambatan terbesar adalah faktor alam dan akses geografis yang ekstrem,” kata Riendra.
Rencana pelayanan kesehatan ke daerah seperti Salimpaung ditunda karena akses jalan yang sulit dan berisiko tinggi.
Curah hujan tinggi juga menjadi kendala, mempersulit tim medis melakukan kunjungan ke rumah warga dan masyarakat menjangkau posko kesehatan.
Program Tanggap Bencana yang didukung Kementerian Diktisaintek menurunkan tenaga bantuan, peralatan, dan bahan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Tim dari berbagai perguruan tinggi turun ke lokasi bencana di Sumbar, termasuk Unand, UNP, UIN, UPI, Unbrah, PNP, UI, Unair, UB, UM, Unpad, Undip, IPB, UGM, Unja, dan Unri.
Unand menurunkan 9 tim yang bertugas masing-masing selama 3 hari dengan total 16 hari selama masa tanggap darurat.
Setiap tim terdiri dari 8-13 orang multi profesi, dipimpin dosen/dokter spesialis dan anggotanya dokter umum, dokter spesialis, apoteker, ahli kesehatan masyarakat, perawat, teknik, dan dokter PPDS dari berbagai disiplin.
Riendra menyebut, tim Unand menangani 1.055 pasien selama masa tanggap darurat.
Penyakit yang paling banyak didiagnosa adalah ISPA, hipertensi, diabetes, asam urat, cephalgia, atralgia, myalgia, LBP, dyspepsia, penyakit kulit, demam, dan diare.
Ketua LPPM Unand, Marzuki, mengatakan bahwa Unand memfokuskan bantuan pada dua daerah terberat, yaitu Kabupaten Agam dan Kota Padang.
“Untuk tanggap darurat di Kota Padang, dibuka Posko Utama di Masjid Nurul Ilmi Kampus Unand Limau Manis,” katanya.
Posko ini melayani pengungsi, baik mahasiswa Unand maupun warga Batu Busuk dan Limau Manis yang terdampak.
Unand membuka masjid Nurul Ilmi sebagai tempat pengungsian dan memenuhi kebutuhan harian pengungsi dengan dukungan Unand Peduli.
Untuk Kabupaten Agam, Unand membentuk Posko Hub di Lubuk Basung untuk koordinasi penempatan tim.
“Ketua Tim lebih fleksibel untuk bisa mengirim ke Koto Alam, Ke Palembayan, Ke Maninjau, ke Matur atau bahkan ke Malalak,” ujar Riendra.
Kegiatan tim Unand berpindah sesuai kebutuhan di 16 titik, termasuk puskesmas, sekolah, kantor wali nagari, pasar, dan tenda pengungsi.
“Komunikasi dengan Posko Utama akan lebih lancar karena tiap waktu juga terbuka komunikasi dengan Perguruan Tinggi lain baik di Sumbar sendiri maupun dari Luar Sumbar,” jelasnya.
Menurut Riendra, Posko Hub aktif 24 jam selama tanggap darurat.
“Setelah tanggap darurat, kita mengirimkan tim ke lapangan tiap minggu untuk pelayanan masyarakat,” katanya.
Melalui Posko Hub, Unand mengoordinir pelayanan kesehatan, trauma healing, dan bantuan logistik di 16 titik di Kabupaten Agam, melibatkan tim dari berbagai perguruan tinggi.
Posko Hub sempat dikunjungi oleh Dirjen Diktisaintek, Khairul Munadi, bersama Rektor Unand, Efa Yonedi, dan Rektor UNP, Krismadinata.
“Inovasi tim Unand adalah sistem stelsel, dimana pengaturan penempatan tim diberbagai posko layanan memalui Posko Hub Tanggap Bencana Unand,” kata Riendra.
Sistem ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan layanan harian korban terdampak.
“Melalui Posko Hub, kita bisa memantau kebutuhan dan ketersediaan tim yang turun setiap hari, memantau layanan dan capaian layanan setiap hari,” tambahnya.
Bersama tim Unair dan Universitas Brawijaya, tim Unand membangun aplikasi digital sistem pelaporan HEOC (Health Emergency Operation Center).
Aplikasi ini mendigitalisasi pelaporan yang sebelumnya dilakukan manual oleh Dinkes Kabupaten Agam, sehingga memudahkan input data langsung dari lapangan dan dapat dipantau secara real time melalui web.
Aplikasi ini diserahkan oleh tim Unand kepada Pemda Agam yang diwakili oleh Sekda dan Kadinkes Kabupaten Agam.




















