Jakarta – Presiden Prabowo Subianto telah membahas proyek ambisius Giant Sea Wall yang akan membentang di pesisir utara Jawa bersama Presiden Cina Xi Jinping di Great Hall of the People, Beijing, pada Rabu, 3 September 2025. Sejalan dengan pembahasan tingkat tinggi ini, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) menyatakan melihat adanya peluang pasar yang signifikan dalam proyek infrastruktur raksasa tersebut.
Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara, mengungkapkan optimisme perseroan terhadap potensi pasar ini. Ia menyoroti pengalaman panjang WIKA Beton dalam proyek serupa, termasuk pembangunan tanggul raksasa dan infrastruktur (NCICD) di pesisir Utara Jakarta.
“Mengenai outlook industri tahun depan, WIKA Beton melihat adanya peluang pasar pada proyek Giant Sea Wall,” kata Kuntjara dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Jumat, 12 September 2025.
Kendati demikian, Kuntjara mengakui bahwa pada tahun ini WIKA Beton dihadapkan pada kondisi permintaan pasar yang cenderung menurun. Hal ini berakibat pada penurunan penjualan perseroan.
Sebagai respons terhadap penurunan permintaan pasar, WIKA Beton telah menyiapkan berbagai langkah. Tujuannya adalah untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan Net Profit Margin (NPM) perusahaan.
Beberapa langkah tersebut mencakup penekanan biaya pokok penjualan (COGS) melalui efisiensi dalam proses produksi. Selain itu, WIKA Beton juga berupaya melakukan penghematan pada biaya usaha.
“Upaya penghematan pada biaya usaha secara langsung berdampak pada NPM,” tambahnya.
Di sisi lain, Direktur Teknik dan Produksi WIKA Beton, Verly Widiantoro, memastikan kinerja keuangan perseroan tetap terjaga di tengah tantangan bisnis jangka pendek.
Dalam jangka panjang, WIKA Beton menjalankan berbagai program strategis. Salah satunya adalah cost reduction pada biaya produksi.
Strategi ini bertujuan agar WIKA Beton dapat menawarkan harga jual produk yang bersaing. Perusahaan juga menargetkan pengurangan fixed cost hingga di bawah 10 persen.




















