Jakarta – Kementerian Kehutanan memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dengan menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta. Kerja sama ini disiapkan sebagai antisipasi menghadapi potensi El Nino pada 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meneken MoU tersebut untuk memperkuat sinergi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal. Pemerintah menilai kolaborasi berbasis sains menjadi penting karena kondisi cuaca tahun depan berpotensi lebih kering.
Prediksi BMKG menyebut El Nino dapat muncul lebih cepat pada semester kedua, tepatnya pada Juni hingga Juli, dengan intensitas lemah hingga moderat. Situasi itu dinilai bisa membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan meningkatkan risiko karhutla dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk tahun ini sudah disampaikan bahwa kemarau akan datang lebih cepat dari tahun lalu, dan akan berakhir lebih lambat, kemudian El Nino lemah sampai moderat artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” kata Raja Juli Antoni.
Kerja sama Kementerian Kehutanan dan BMKG mencakup integrasi data meteorologi, klimatologi, dan kehutanan. Data tersebut akan digunakan untuk memperkuat analisis risiko secara lebih akurat dan berbasis sains.
Kolaborasi itu juga menyasar penguatan kapasitas sumber daya manusia agar siap menghadapi ancaman karhutla. Raja Juli Antoni menilai BMKG memegang peran penting dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan melalui prediksi cuaca yang lebih presisi.
“BMKG memerankan peran yang sangat penting untuk menurunkan angka karhutla. Dengan tadi memprediksi cuaca, presisi dengan lebih prediktif, termasuk prevensi atau pencegahan. Mencegah terjadinya karhutla itu jauh lebih baik ketimbang memadamkan ketika apinya sudah berkobar,” ujarnya.
Pemerintah juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah pencegahan sebelum api muncul. Langkah ini dilakukan berdasarkan pantauan tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut yang rawan terbakar.
Jika tinggi muka air tanah turun di bawah 40 sentimeter, OMC akan digelar untuk menambah cadangan air di wilayah terdampak. Pemerintah menilai upaya itu penting agar risiko kebakaran bisa ditekan sejak dini.
“OMC yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum apinya menyala. Sekarang sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita (lakukan) adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut. Kalau cadangan airnya cukup insya Allah tidak akan terjadi kebakaran,” kata Raja Juli Antoni.
Sejumlah upaya pencegahan disebut telah menurunkan luas karhutla secara signifikan. Data menunjukkan, dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015, luas karhutla turun menjadi sekitar 350 ribu hektare pada tahun lalu.






















