Jakarta – Perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai berdampak ke pasar barang konsumsi, termasuk kondom. Produsen kondom terbesar di dunia, Karex, menyebut gangguan rantai pasok global berpotensi membuat harga kondom naik 20 persen hingga 30 persen.
CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengatakan kenaikan itu bisa terjadi jika hambatan pasokan terus berlanjut. Ia menegaskan perusahaan tak punya banyak pilihan selain membebankan sebagian biaya tambahan kepada konsumen.
“Situasinya jelas sangat rapuh, harga mahal. Kami tidak punya pilihan selain membebankan biaya tersebut kepada pelanggan,” ujar Goh kepada Reuters, Selasa (21/4).
Karex yang berbasis di Malaysia memproduksi kondom, pelumas, sarung tangan, kateter medis, dan pelindung probe. Sejumlah merek kondom yang diproduksi perusahaan itu antara lain Durex, Trojan, ONE, Trustex, Carex, dan Pasante.
Perusahaan tersebut mampu memproduksi lebih dari 5 miliar kondom per tahun dan mengekspor produknya ke lebih dari 130 negara, menurut situs resmi mereka.
Selain kenaikan biaya produksi dan kemasan, Goh juga menyoroti masalah pengiriman. Ia mengatakan banyak barang tertahan di kapal dan belum sampai ke tujuan.
“Kami melihat banyak kondom tertahan di kapal yang belum sampai ke tujuan, padahal sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Meski begitu, Goh menyebut Karex masih memiliki persediaan untuk beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, perang yang memanas juga ikut mendorong harga minyak dan gas naik. Para ekonom menilai lonjakan biaya energi ini bisa menekan belanja konsumen dan mengganggu aktivitas produksi, terutama di Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.
Gangguan perang juga merembet ke bahan baku turunan minyak atau feedstock yang dipakai untuk membuat plastik dan material lain. Nafta, yang menjadi bahan dasar plastik, termasuk di antaranya. Ada pula minyak silikon dan amonia, dua komponen penting dalam produksi kondom.
Karex menjelaskan sekitar 41 persen pasokan nafta di Asia berasal dari Timur Tengah. Jika produsen, termasuk Malaysia, kesulitan memperoleh bahan baku, mereka akan terpaksa menaikkan harga untuk menutup biaya.
“Banyak yang membicarakan minyak mentah dan dampaknya terhadap solar serta bensin, tetapi bahan baku petrokimia juga mengalami kekurangan,” kata Kepala global minyak dan gas di KPMG, Angie Gildea, kepada CNN.





















