Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan risiko hiperinflasi di Indonesia masih sangat jauh. Ia juga membantah kekhawatiran sejumlah pengamat yang menyebut harga-harga berpotensi melonjak tak terkendali.
Purbaya menyampaikan hal itu dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5). Ia menilai kondisi inflasi nasional saat ini masih aman dan terkendali.
Menurut Purbaya, inflasi Indonesia pada April 2026 berada di kisaran 2,4 persen. Angka itu, kata dia, masih dalam level yang ideal.
“Ada yang bilang menuju hiperinflasi, bisa 4-5 persen, nakut-nakutin. Ternyata inflasinya pada April ini 2,4 persen,” kata Purbaya.
“Ini (2,4 persen) angka yang sempurna. Kita pastikan inflasi akan terkendali terus. Jadi ekonomi kita tidak kepanasan, hiperinflasi masih jauh. Pengamat-pengamat itu mesti belajar,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan atau year on year (yoy) April 2026 tercatat 2,42 persen. Angka tersebut turun dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,48 persen.
Hiperinflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa naik sangat cepat dan tidak terkendali dalam periode tertentu.
Mengutip situs World Economic Forum, suatu negara umumnya disebut mengalami hiperinflasi jika inflasinya melampaui 50 persen per bulan.
Kondisi itu biasanya dipicu kenaikan jumlah uang beredar yang terlalu cepat. Hal ini bisa terjadi saat pemerintah mencetak uang secara berlebihan untuk membiayai pengeluaran atau ketika permintaan naik jauh lebih tinggi daripada pasokan barang.
Dampaknya, nilai mata uang bisa merosot tajam dan harga kebutuhan sehari-hari melonjak dalam waktu singkat.
Sejarah mencatat salah satu kasus hiperinflasi paling terkenal terjadi di Jerman pada 1923 setelah Perang Dunia I. Saat itu, inflasi bulanan negara tersebut sempat mencapai 29.500 persen.
Zimbabwe juga pernah mengalami hiperinflasi parah pada 2008, dengan inflasi bulanan tercatat sekitar 79 miliar persen.





















