Jakarta – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah darurat meredam volatilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter ini diambil menyusul tekanan hebat akibat konflik di Timur Tengah yang sempat membuat mata uang Garuda terpuruk di level Rp17.700 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa penyesuaian suku bunga tersebut merupakan upaya krusial untuk menjaga stabilitas mata uang nasional. “Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” ujar Perry dalam keterangan resminya.
Respons cepat BI terbukti membuahkan hasil. Setelah sempat dibuka di angka Rp17.746 per dolar AS pada perdagangan Rabu (20/5), rupiah perlahan menguat dan berhasil ditutup di level Rp17.654 per dolar AS.
Di sisi lain, pemerintah mulai memproyeksikan ketahanan ekonomi untuk jangka panjang. Dalam Rapat Paripurna DPR RI, Presiden Prabowo Subianto menetapkan target nilai tukar rupiah dalam Kerangka Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027 di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Angka tersebut memang lebih lemah dibandingkan asumsi APBN 2026 yang dipatok pada Rp16.500 per dolar AS. Menanggapi tantangan tersebut, Presiden menekankan pentingnya sinergi antara otoritas fiskal dan moneter.
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” tegas Prabowo di hadapan anggota dewan.
Koordinasi ketat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia kini menjadi kunci utama pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi.





















