Padang – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit rakyat di Sumatera Barat hingga menyentuh angka Rp600 per kilogram memicu desakan agar pemerintah segera melakukan intervensi pasar.
Anggota DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh, menilai kondisi ini telah menekan kesejahteraan petani secara signifikan dan menuntut kehadiran negara untuk menstabilkan harga.
Rahmat menyoroti adanya ketimpangan antara harga bahan baku di tingkat petani yang merosot tajam dengan kelangkaan minyak goreng yang masih terjadi di sejumlah daerah.
Ia menduga terdapat praktik permainan dalam rantai distribusi yang merugikan masyarakat.
“Ketika kebutuhan meningkat, pasti ada pihak yang bermain. Oleh karena itu pemerintah harus hadir memastikan pihak-pihak yang bermain dan menyebabkan harga turun ini ditindak secara tegas,” ujar Rahmat di Padang, Minggu (31/5/2026).
Ia secara khusus mendorong perusahaan milik negara (BUMN), termasuk PTPN, untuk mengambil peran sebagai penyeimbang pasar.
Menurutnya, BUMN perkebunan harus melakukan intervensi harga minimal agar petani tidak terus-menerus menanggung kerugian akibat gejolak pasar.
Lebih lanjut, Rahmat mengaitkan fenomena penurunan harga ini dengan dinamika kebijakan ekspor CPO yang tengah ditata pemerintah.
Ia menduga reaksi pasar muncul sebagai respons atas rencana penataan ekspor melalui BUMN yang saat ini sedang digulirkan.
“Tentu hal ini tidak lepas dari arahan Presiden terkait ekspor, termasuk CPO dan sawit yang nantinya melalui BUMN. Pasti akan ada reaksi pasar, termasuk dari pihak yang selama ini memiliki kepentingan di sektor tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, Rahmat mengaku telah menerima informasi bahwa pemerintah telah memanggil sejumlah BUMN terkait untuk memastikan harga beli sawit di tingkat masyarakat tetap terjaga.
Ia berharap langkah tersebut segera memberikan dampak positif bagi para petani di Sumatera Barat.
“Kami berharap kebijakan ini berjalan baik. Saya dengar beberapa BUMN terkait juga sudah dipanggil untuk memastikan harga beli sawit di masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.





















