Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi, Manfaatkan Peluang Reksadana USD

persen

Jakarta – Instrumen investasi berbasis mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tetap menjadi pilihan strategis bagi investor dalam melakukan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global. Meskipun bank sentral AS, The Fed, diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, reksadana berdenominasi USD dinilai masih menawarkan potensi keuntungan yang kompetitif bagi investor jangka panjang.

Direktur dan Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, menyatakan bahwa kebijakan moneter The Fed yang cenderung menahan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen pada pertemuan FOMC Juni 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi pasar keuangan. Tekanan inflasi yang persisten menjadi faktor utama mengapa otoritas moneter AS belum memberikan sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Kendati demikian, kondisi tersebut justru membuka celah bagi investor untuk memetik keuntungan dari instrumen pasar uang maupun obligasi.

Menurut Ezra, kenaikan suku bunga acuan secara tidak langsung meningkatkan daya tarik instrumen pasar uang karena ekspektasi imbal hasil deposito yang lebih tinggi. Selain itu, kenaikan imbal hasil atau yield pada instrumen obligasi memberikan kesempatan bagi investor untuk masuk ke pasar pada level harga yang lebih atraktif. Strategi ini dianggap sangat ideal bagi pelaku pasar yang memiliki cakrawala investasi jangka panjang dan berorientasi pada stabilitas portofolio di tengah volatilitas ekonomi global.

Terkait dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang sempat menyentuh level 99,69, Ezra menegaskan bahwa fluktuasi mata uang tersebut bukan merupakan penentu utama kinerja reksadana USD. Performa reksadana lebih banyak dipengaruhi oleh kinerja aset dasar yang berada dalam portofolio, seperti saham, obligasi, dan deposito. Karena aset-aset tersebut juga berdenominasi dolar AS, maka pergerakan nilai tukar mata uang tidak memberikan dampak langsung terhadap harga unit penyertaan reksadana tersebut.

Bagi investor domestik yang masih memiliki dana dalam mata uang rupiah, reksadana berbasis USD tetap layak dipertimbangkan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko ekonomi. Instrumen ini secara historis menawarkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk tabungan dolar AS di perbankan konvensional, meskipun investor harus tetap menyadari adanya risiko fluktuasi nilai investasi yang melekat pada instrumen pasar modal.

Untuk memitigasi risiko tersebut, investor disarankan untuk menerapkan strategi diversifikasi aset secara menyeluruh. Penggunaan metode investasi berkala atau cost averaging dinilai sangat efektif untuk membantu portofolio tetap tangguh menghadapi gejolak pasar global yang dipicu oleh perkembangan harga energi serta dinamika inflasi.

Manulife Aset Manajemen Indonesia sendiri menyediakan sejumlah opsi produk bagi investor yang ingin mengeksplorasi instrumen dolar AS. Salah satunya adalah Manulife Indonesia Liquid Fund USD (MALIQ) yang berfokus pada deposito dolar AS dan obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor pendek. Selain itu, terdapat pula produk Manulife USD Fixed Income (MANUFIX) yang mengombinasikan obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS atau INDON dengan instrumen deposito, memberikan fleksibilitas lebih bagi investor dalam mengelola aset mereka di tengah ketidakpastian pasar.

Rekomendasi