Jakarta – Pemerintah menargetkan penghematan devisa negara hingga Rp157,28 triliun melalui implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang akan resmi diluncurkan pada 1 Juli mendatang.
Program ini diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar secara signifikan.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan memimpin langsung peresmian penggunaan bahan bakar nabati tersebut.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memastikan bahwa harga jual B50 nantinya akan mengikuti formula penetapan harga solar yang sudah berlaku saat ini.
“Kalau harga kan mengikuti harga BBM yang sudah biasanya aja, enggak ada hal khusus,” ujar Laode di Jakarta.
Pemerintah juga telah menyiapkan masa transisi selama tiga bulan untuk memastikan kelancaran distribusi di lapangan.
Masa jeda ini diberikan agar stok biodiesel B40 yang masih ada dapat dihabiskan sebelum beralih sepenuhnya ke B50.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan optimisme tinggi setelah hasil uji coba teknis pada berbagai sektor menunjukkan performa yang sangat memuaskan.
Pengujian tersebut mencakup penggunaan pada alat berat, kapal, kereta api, hingga mesin pertanian.
Salah satu keunggulan teknis yang ditemukan adalah kadar air pada B50 yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan campuran B40.
“Hasilnya sangat menggembirakan,” ungkap Bahlil mengenai progres teknis yang dipimpin oleh tim Ditjen EBTKE.
Selain penghematan devisa, program B50 ditargetkan mampu meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) sebesar Rp24,68 triliun.
Pemerintah juga memproyeksikan program ini akan menyerap sekitar 2,2 juta tenaga kerja baru.
Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton karbon dioksida sepanjang tahun ini.





















