Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai menggenjot sektor pertanian sebagai tulang punggung baru ketahanan energi nasional melalui program bauran bioetanol E20.
Langkah ini diambil untuk menekan ketergantungan impor bensin yang saat ini masih mencapai angka 25 juta kiloliter per tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah akan menyerap hasil panen tebu, singkong, dan jagung dari petani untuk diolah menjadi etanol.
“Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani,” ujar Bahlil dalam acara Sarasehan Kebangsaan KSTI di Jakarta, Sabtu (27/6).
Program E20 ini dirancang dengan mengadopsi kesuksesan implementasi biodiesel B10 hingga B50 yang sebelumnya telah diterapkan pada sektor solar.
Bahlil memaparkan bahwa kebutuhan bensin nasional saat ini menyentuh angka 40 juta kiloliter, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru mencapai 14,3 juta kiloliter.
Meski operasional Kilang Balikpapan pada Januari 2026 diproyeksikan menambah produksi sebesar 5,5 juta kiloliter, defisit pasokan tetap harus ditutupi melalui inovasi energi terbarukan.
Pemerintah menargetkan penyerapan 4 juta kiloliter etanol untuk dicampurkan ke dalam bensin guna menekan sisa impor yang masih tersisa sekitar 20 juta kiloliter.
Selain memperkuat kemandirian energi, kebijakan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi para petani di sektor hulu.
Langkah strategis ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat pencapaian target net zero emission (NZE) pada tahun 2060.




















