Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait ancaman ketahanan pangan nasional akibat fenomena El Nino yang diprediksi kian menguat.
Kondisi iklim ini dipastikan akan memperparah puncak musim kemarau di Indonesia hingga berdampak pada potensi kekeringan yang meluas.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa fase penguatan El Nino akan memangkas curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah tanah air.
Fenomena ini memicu kekhawatiran bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan rata-rata kondisi normal.
Data pemantauan iklim terbaru menunjukkan bahwa hingga pertengahan Juni, sebanyak 37,6 persen zona musim di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau.
Pada periode yang sama, tercatat 47,16 persen wilayah Indonesia sudah mengalami curah hujan dengan intensitas di bawah normal.
BMKG memproyeksikan cakupan wilayah yang terdampak curah hujan rendah tersebut akan terus meluas hingga mencapai lebih dari 80 persen wilayah Indonesia pada periode Juli hingga Oktober mendatang.
Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan akan terjadi dalam rentang waktu Juli hingga September.
Menanggapi situasi tersebut, BMKG menekankan pentingnya langkah mitigasi cepat bagi sektor pertanian untuk mencegah risiko ancaman gagal panen yang mengintai.
“Beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan, antara lain menyesuaikan jadwal tanam, mengoptimalkan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering dan berumur genjah, serta melakukan diversifikasi tanaman pangan,” jelas Ardhasena sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Jumat (3/7).
Pihaknya juga mendorong masyarakat di berbagai daerah untuk segera melakukan langkah antisipasi dan adaptasi yang disesuaikan dengan karakteristik geografis masing-masing wilayah.
Hal ini menjadi krusial mengingat dampak dari fenomena El Nino dipastikan tidak akan dirasakan secara merata di seluruh pelosok Indonesia.
Untuk memantau perkembangan situasi, otoritas cuaca nasional berjanji akan terus melakukan pengamatan intensif terhadap dinamika iklim regional maupun global.
Informasi mengenai prakiraan cuaca akan terus diperbarui secara berkala setiap 10 hari guna menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Langkah mitigasi yang tepat waktu dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional di tengah tantangan iklim yang ekstrem.
Koordinasi lintas sektor diharapkan dapat berjalan maksimal guna menekan dampak negatif dari musim kemarau yang berkepanjangan ini.
Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi iklim melalui kanal resmi BMKG agar dapat menentukan langkah adaptasi yang paling relevan dengan kondisi di lapangan.



















