Rupiah Kembali Melemah Tembus Level Psikologis Rp18.000 per Dolar

Defisit neraca perdagangan US$1,61 miliar dorong rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS, dipicu penguatan dolar global dan tekanan pasar terhadap mata uang Garuda.

persen

Close-up of a stack of $10,000 US dollar bills with a currency strap on a background of paper money.
Photo by adrian vieriu on Pexels

Jakarta – Defisit neraca perdagangan yang mencapai US$1,61 miliar pada Mei 2026 menjadi pukulan telak bagi nilai tukar rupiah.

Mata uang Garuda terperosok hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/7/2026).

Data Refinitiv mencatat rupiah melemah 0,31% ke posisi Rp18.000 per US$ pada pukul 13.44 WIB.

Kondisi ini memperburuk tren pelemahan sejak pembukaan pasar pagi tadi yang sempat berada di level Rp17.970 per US$.

Posisi tersebut sekaligus mengakhiri catatan surplus perdagangan Indonesia yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan berturut-turut.

Sentimen negatif ini diperparah oleh penguatan dolar AS di pasar global yang menekan mata uang negara-negara berkembang.

Indeks dolar AS (DXY) terpantau naik 0,17% ke level 101,030 pada pukul 13.45 WIB.

Analis pasar menilai kombinasi antara data defisit perdagangan dan penguatan indeks dolar menjadi faktor utama yang membebani rupiah.

“Rupiah kembali ke atas level Rp18.000 setelah terakhir kali ditutup di angka Rp18.050 per US$ pada 9 Juni 2026,” ujar pengamat pasar menanggapi pergerakan mata uang tersebut.

Pelaku pasar kini tengah mencermati langkah antisipasi pemerintah dalam merespons defisit perdagangan yang baru saja terjadi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar