Saham Emiten RS Mata JECX Melonjak 25 Persen Usai Melantai

Jakarta – PT Nitrasanata Dharma Tbk resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (7/7).

Perusahaan yang bergerak di sektor layanan kesehatan mata ini menjadi emiten ketiga yang melantai di bursa sepanjang tahun 2026.

Saham berkode JECX tersebut langsung mencatatkan performa gemilang pada menit-menit awal perdagangan.

Harga sahamnya melonjak 24,8 persen ke level Rp 1.560 per lembar dari harga penawaran awal sebesar Rp 1.250.

Lonjakan ini membuat JECX seketika menyentuh batas auto rejection atas (ARA) tak lama setelah bursa dibuka pukul 09.00 WIB.

Data perdagangan mencatat volume transaksi mencapai 1,64 ribu lot dengan nilai Rp 260,99 juta.

Frekuensi transaksi juga cukup aktif dengan total 1.560 kali perpindahan tangan saham.

Dalam aksi penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), perseroan melepas total 487.983.500 saham ke publik.

Jumlah tersebut setara dengan 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Komposisi saham yang dilepas terdiri dari 325.322.300 saham baru dan 162.661.200 saham divestasi milik Waldensius Girsang.

Total dana yang berhasil dihimpun perusahaan melalui aksi korporasi ini mencapai Rp 609,98 miliar.

Sebesar Rp 406,65 miliar berasal dari penerbitan saham baru, sementara Rp 203,33 miliar diperoleh dari divestasi.

Dengan harga penawaran Rp 1.250, kapitalisasi pasar JECX kini menembus angka Rp 4,07 triliun.

Antusiasme investor terhadap saham ini terlihat sangat tinggi selama masa penawaran umum berlangsung.

Penjatahan terpusat atau pooling allotment bahkan mencatatkan kelebihan permintaan hingga 62,5 kali lipat.

Tercatat ada sekitar 555.699 investor yang berebut untuk memiliki saham perusahaan tersebut.

Presiden Direktur PT Nitrasanata Dharma Tbk, Johan Hutauruk, menyatakan dana IPO akan digunakan untuk memperkuat permodalan.

Selain itu, dana tersebut dialokasikan untuk membiayai rencana ekspansi bisnis perusahaan ke depan.

“Perseroan berharap dapat memperkuat struktur permodalan dan mendukung pertumbuhan JEC, dengan tetap mengedepankan semangat Care with Experience, yaitu pelayanan yang berorientasi pada pasien dan didukung oleh pengalaman serta keahlian JEC di bidang kesehatan mata,” ujar Johan sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Selasa (7/7).

JEC sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam industri kesehatan mata di Indonesia.

Perusahaan ini bertransformasi menjadi Jakarta Eye Center pada tahun 1993 dengan fokus pada teknologi medis modern.

Ekspansi besar dilakukan pada 2012 dengan membangun rumah sakit berkonsep hospitel dan green building di Kedoya, Jakarta Barat.

Strategi pertumbuhan agresif berlanjut sejak 2015 melalui skema merger, akuisisi, dan kemitraan strategis.

Jaringan layanan mereka kini telah merambah berbagai wilayah strategis seperti Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi.

Langkah melantai di bursa ini menjadi tonggak penting bagi JEC untuk memperkuat posisi sebagai penyedia layanan kesehatan mata terintegrasi berskala nasional.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar