Microsoft Pangkas 4.800 Karyawan dan Rombak Strategi Divisi Xbox

Microsoft restrukturisasi divisi Xbox, PHK 3.200 karyawan, tutup empat studio gim, demi perbaiki profitabilitas dan investasi AI, meski saham alami penurunan hampir 23 persen semester pertama 2026.
microsoft-phk-massal-4.800-karyawan,-rombak-besar-divisi-gim-xbox
Microsoft PHK Massal 4.800 Karyawan, Rombak Besar Divisi Gim Xbox

Jakarta – Microsoft melakukan perombakan besar-besaran pada divisi gim Xbox sebagai langkah strategis untuk memperbaiki profitabilitas perusahaan.

Langkah ini ditandai dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 3.200 karyawan di sektor tersebut, di mana 1.600 orang di antaranya diberhentikan secara langsung pada Senin (6/7).

Secara total, raksasa teknologi ini memangkas 4.800 posisi atau 2,1 persen dari seluruh tenaga kerja globalnya.

Kepala baru Xbox, Asha Sharma, mengungkapkan bahwa restrukturisasi ini juga melibatkan pelepasan empat studio gim milik perusahaan.

“Restrukturisasi ini mencakup pelepasan empat studio,” ujar Sharma dalam memo internal kepada para karyawan.

Studio seperti Compulsion Games dan Double Fine Productions akan beralih menjadi entitas independen.

Sementara itu, Ninja Theory dan Undead Labs akan dipisahkan agar lebih fokus pada pengembangan waralaba utama mereka.

Manajemen Arkane Studios bahkan telah memulai konsultasi dengan serikat pekerja di Prancis untuk mengevaluasi masa depan operasional mereka.

Langkah drastis ini diambil karena Microsoft masih kesulitan menyaingi dominasi Sony PlayStation dan Nintendo, meski telah menggelontorkan dana jumbo untuk akuisisi Activision Blizzard.

Di sisi lain, Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, membantah bahwa PHK massal ini dilakukan untuk menggantikan peran manusia dengan kecerdasan buatan (AI).

“Posisi yang dihapus hari ini tidak digantikan oleh AI,” tegas Coleman dalam memo resminya.

Namun, para analis menilai langkah efisiensi ini memang berkaitan erat dengan ambisi perusahaan mendanai investasi AI yang sangat mahal.

Direktur Pelaksana D.A. Davidson, Gil Luria, menyebut Microsoft sengaja menekan jumlah tenaga kerja untuk menjaga margin keuntungan di tengah membengkaknya biaya pembangunan pusat data.

“Dengan menjaga jumlah karyawan tetap rendah, Microsoft mampu mempercepat pertumbuhan pendapatan sambil mempertahankan tingkat margin keuntungan yang sama,” jelas Luria.

Pasar merespons kebijakan ini dengan penurunan saham Microsoft sebesar 1,4 persen pada perdagangan Senin.

Kinerja saham perusahaan sendiri tercatat sedang dalam tekanan, dengan penurunan hampir 23 persen sepanjang semester pertama 2026.

Rekomendasi