Strategi Investasi Handy Juniandri: Memilih Aset Konservatif dan Jangka Panjang

Jakarta – Direktur Utama PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Handy Juniandri, menetapkan strategi investasi konservatif dalam mengelola aset pribadinya.

Pilihan ini didasarkan pada orientasi imbal hasil jangka panjang yang ditujukan untuk menjamin stabilitas finansial di masa pensiun.

“Saya baru menjabat menjadi direktur utama Samir mulai tanggal 13 Mei 2026,” ujarnya dikutip dari laman resmi perusahaan, Handy Juniandri (2026).

Perjalanan karier Handy dimulai sejak ia lulus dari Universitas Widyatama Bandung pada tahun 2004.

Ia menghabiskan satu dekade pertama kariernya di industri multifinance, tepatnya di BFI Multifinance.

Selanjutnya, ia merambah ke sektor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan menjabat sebagai manajer di BPR Kredit Mandiri Indonesia pada 2015.

Handy juga memiliki rekam jejak sebagai komisaris di BPR Gema Esamas Abadi periode 2023-2026 serta komisaris Samir periode 2020-2026.

Pemahaman Handy mengenai investasi tidak didapat secara mendalam saat ia menempuh pendidikan ekonomi manajemen di bangku kuliah.

Ia justru baru menyadari pentingnya investasi saat mengamati perilaku atasannya di industri multifinance pada rentang tahun 2007-2008.

“Saya waktu itu belum coba untuk mengambil produk. Saat itu hanya sekadar tes saja,” ungkapnya, Handy Juniandri (2026).

Implementasi investasi baru ia lakukan secara serius pada tahun 2019 dengan memilih deposito BPR dan emas.

Handy menilai deposito BPR menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif, yakni di kisaran 5% hingga 6% per tahun dibandingkan bank umum.

Ia menekankan pentingnya memilih BPR yang sehat agar keamanan dana tetap terjaga melalui penjaminan LPS.

“Dari laporan keuangan yang dirilis, kita bisa lihat berapa persentase keberhasilan mereka dalam mengembalikan uang nasabah. Kalau perusahaannya sehat, uang simpanan kita juga bisa aman,” paparnya, Handy Juniandri (2026).

Selain deposito, ia menjadikan emas sebagai instrumen utama sejak tahun 2023.

Menurutnya, logam mulia merupakan bentuk aset paling aman untuk menyimpan sisa pendapatan setelah kebutuhan pokok terpenuhi.

“Beda dengan deposito BPR yang lebih likuid dibandingkan emas,” jelasnya, Handy Juniandri (2026).

Saat ini, portofolio investasi Handy terbagi menjadi 70% deposito dan 30% emas.

Ia belum berencana melakukan diversifikasi ke instrumen lain dan memilih untuk terus menambah kepemilikan pada aset yang sudah ada.

Baginya, aset dengan perawatan rendah atau low maintenance sangat krusial bagi individu yang masih aktif bekerja.

“Harapannya, saat sudah tidak berkarier lagi, apa yang kami tanam hari ini bisa menjadi fondasi di masa pensiun,” imbuhnya, Handy Juniandri (2026).

Handy menyarankan agar investor pemula menentukan tujuan keuangan terlebih dahulu sebelum memilih instrumen pasar.

“Kalau mau aman, sisihkan dari gaji sekian persen, lalu masukan ke instrumen-instrumen yang aman,” tegasnya, Handy Juniandri (2026).

Strategi ini terbukti efektif baginya, karena hingga saat ini, ia mengklaim belum pernah mengalami kerugian dalam portofolio investasinya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar