Jakarta – Pasar obligasi domestik mencatatkan tren kenaikan imbal hasil atau yield pada Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga mencapai level 7,37% per Minggu (26/7/2026).
Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 1,89% dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Jika dibandingkan secara tahunan atau year-on-year, kenaikan yield SBN tenor 10 tahun bahkan telah menyentuh kisaran 13%.
Kondisi ini terjadi tepat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.
Sebelum pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli, posisi yield SBN 10 tahun tercatat masih berada di kisaran 7,1%.
Kenaikan yield ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi atas kepemilikan aset obligasi negara.
Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menyatakan bahwa keputusan BI menahan suku bunga acuan sebenarnya sudah sesuai dengan proyeksi pasar.
Namun, kebijakan tersebut belum mampu menjadi katalis pendorong bagi penurunan yield SBN di pasar sekunder.
“Karena tekanan eksternal tetap kuat, terutama yield US Treasury 10 tahun yang berada di sekitar 4,69%, ekspektasi The Fed yang kembali lebih hawkish, serta volatilitas rupiah,” ujar Banjaran dikutip melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (24/7/2026).
Faktor global tersebut dinilai menjadi pemberat utama dibandingkan dengan kondisi fiskal domestik.
Realisasi APBN pada semester I-2026 tercatat masih dalam kondisi terjaga dengan defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% dari PDB.
Angka defisit tersebut bahkan tergolong lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Banjaran menekankan bahwa tekanan pada yield saat ini lebih didorong oleh dinamika pasar global, arus modal, serta kebutuhan pembiayaan.
Saat ini, selisih atau spread yield SBN 10 tahun terhadap US Treasury berada di kisaran 265 basis poin (bps).
Level tersebut sebenarnya masih memberikan kompensasi yang cukup kompetitif bagi para investor obligasi.
Akan tetapi, ruang penurunan yield diperkirakan masih akan sangat terbatas selama yield US Treasury bertahan di level tinggi dan nilai tukar rupiah terus berfluktuasi.
Dinamika domestik turut memperkeruh situasi dengan adanya perubahan arus modal asing yang berbalik arah.
Data menunjukkan arus modal asing berubah dari posisi inflow sebesar Rp 44,41 triliun pada Juni menjadi outflow senilai Rp 3,81 triliun pada Juli.
Selain itu, persaingan ketat likuiditas dipicu oleh tingginya minat investor terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Instrumen SRBI tenor satu tahun saat ini menawarkan yield sekitar 7,64% dengan nilai outstanding mencapai Rp 1.065 triliun.
“Posisi fiskal yang masih terjaga membantu menahan pelebaran premi risiko, tetapi belum cukup mengimbangi tekanan eksternal dan ketatnya persaingan likuiditas,” jelas Banjaran.
Proyeksi ke depan menunjukkan yield SBN 10 tahun kemungkinan bergerak di rentang 7,10% hingga 7,40% sampai akhir tahun 2026.
Yield berpotensi melandai ke kisaran 6,90% hingga 7,10% apabila The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneter.
Sebaliknya, yield berisiko melonjak ke level 7,40% hingga 7,60% jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan arus modal asing keluar semakin masif.
Investor kini diminta mencermati beberapa risiko utama di paruh kedua 2026, termasuk jatuh tempo SRBI sebesar Rp 138 triliun pada November mendatang.




















