Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9), menyusul eskalasi konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga komoditas energi global.
Kondisi tersebut memperburuk posisi mata uang Garuda yang pada penutupan akhir pekan lalu telah melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar Amerika Serikat (AS).
Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat mengalami depresiasi tajam hingga 80 poin dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.547 per dolar AS.
Indikator Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mengonfirmasi pelemahan tersebut dengan mencatat koreksi sebesar 0,43% ke level Rp17.611 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi katalis utama pelemahan mata uang domestik di tengah ketegangan yang kian memuncak di Timur Tengah.
Sentimen pasar semakin terbebani oleh rilis data Producer Price Index (PPI) AS bulan Agustus yang melonjak 5,4% secara tahunan (year on year).
Kenaikan inflasi di tingkat produsen ini mempertahankan probabilitas kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah,” ujar Ibrahim dikutip dari keterangannya, Jumat (11/9).
Gangguan keamanan pada jalur pelayaran strategis, khususnya di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb akibat eskalasi militer, dinilai menjadi ancaman serius bagi rantai pasok energi global.
Gangguan ini telah mendorong harga minyak mentah dunia menembus level psikologis US$100 per barel.
Bagi Indonesia, yang saat ini berstatus sebagai net importer minyak, kenaikan harga komoditas tersebut memberikan beban tambahan pada neraca perdagangan dan fiskal.
Lonjakan harga minyak mentah secara langsung meningkatkan permintaan dolar AS untuk membiayai impor bahan bakar, sekaligus memperlebar potensi defisit anggaran.
Pemerintah kini menghadapi dilema kebijakan yang cukup pelik terkait keberlangsungan subsidi energi di tengah fluktuasi harga global.
“Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter. Ini yang membuat batu sandungan tersendiri. Anggaran fiskal (APBN) jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM,” ungkap Ibrahim.
Meskipun Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas ekspor unggulan seperti batu bara dan crude palm oil (CPO), tambahan pendapatan tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi membengkaknya biaya impor minyak.
Inflasi barang impor pun menjadi ancaman nyata yang dapat memperberat kondisi ekonomi dalam negeri jika tekanan dolar AS terus berlanjut.
Berdasarkan proyeksi teknikal dan fundamental, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin (14/9).




















