Strategi Baru Elnusa Genjot Eksplorasi Harta Karun Migas Nasional

Kholida Rahman

Strategi Baru Elnusa Genjot Eksplorasi Harta Karun Migas Nasional

Jakarta – PT Elnusa Tbk (ELSA) terus memperkuat dominasi teknologinya dalam sektor eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) nasional melalui optimalisasi survei seismik mutakhir.

Perusahaan jasa energi ini baru saja menuntaskan Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Selat Makassar, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Proyek yang mencakup area seluas 2.500 kilometer persegi tersebut berhasil diselesaikan hanya dalam waktu 56 hari.

Capaian ini melampaui target awal selama 76 hari, sekaligus mencatatkan 99.120 jam kerja tanpa kecelakaan kerja.

Elnusa menggunakan teknologi seismik laut dalam dengan metode marine streamer untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan secara akurat.

Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan metode Pre Stack Time Migration (PSTM) selama enam bulan untuk mendeteksi potensi hidrokarbon.

Hasil pengolahan data tersebut menjadi acuan krusial bagi pemilik wilayah kerja dalam menentukan titik pengeboran eksplorasi selanjutnya.

Ekspansi teknologi perusahaan tidak terbatas pada wilayah perairan.

Pada 3 September 2026, Elnusa memulai pengerjaan dua proyek survei seismik 3D di daratan Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Proyek tersebut menggunakan teknologi STRYDE Nimble Seismic System yang memungkinkan akuisisi data seismik dengan densitas tinggi.

Perangkat nodal yang ringkas ini memberikan fleksibilitas tinggi saat beroperasi di berbagai medan sulit, mulai dari kawasan hutan, aliran sungai, hingga area permukiman.

Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, menyatakan bahwa keterlibatan pelanggan di luar Grup Pertamina dalam proyek ini menunjukkan daya saing perusahaan yang semakin meningkat.

“Ke depan, teknologi tidak berhenti sebagai peningkatan kapabilitas, tetapi harus mampu meningkatkan efisiensi, menjawab kebutuhan pelanggan, dan memperluas pasar,” ujar Rustam dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Senin (14/9/2026).

Sepanjang semester pertama 2026, Elnusa telah menyelesaikan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 km² dan survei seismik 2D sepanjang 193 km.

Perusahaan juga mencatatkan kontrak baru senilai Rp 11,6 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini.

Total carry forward contract yang dimiliki perseroan hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp 18,8 triliun.

Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo, menegaskan bahwa perusahaan terus menjajaki peluang pasar internasional secara selektif dengan mempertimbangkan aspek komersial dan risiko.

“Di Pertamina Group kami punya Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) yang mempunyai jaringan luas di Afrika, di Asia, maupun di Eropa,” ucap Andri dalam Paparan Publik 2026, Senin (7/9/2026).

Pihak analis dari Sucor Sekuritas memproyeksikan laba bersih Elnusa akan meningkat sebesar 11,8% menjadi Rp 803 miliar pada akhir 2026.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan eksplorasi yang memiliki margin keuntungan signifikan bagi segmen seismik perusahaan.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai posisi Elnusa sangat strategis dalam ekosistem energi nasional.

“Ini menegaskan Elnusa memang punya daya saing, kompetitif, baik di dalam teknologi maupun juga mungkin di dalam biayanya cukup kompetitif dibandingkan industri sejenis yang lainnya,” kata Komaidi, Senin (7/9/2026).

Selain fokus pada operasional, Elnusa juga mengedepankan aspek keberlanjutan melalui standar keselamatan kerja yang ketat dan inisiatif pengurangan emisi karbon.

Perusahaan mencatat penurunan emisi sebesar 3.079 ton CO2e sepanjang 2025 serta menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar