ORI030 Raup Rp 40 Triliun, Simak Jadwal Penerbitan SBN Selanjutnya

persen

ORI030 Raup Rp 40 Triliun, Simak Jadwal Penerbitan SBN Selanjutnya

Jakarta – Pemerintah Indonesia masih menyisakan empat instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang akan diterbitkan hingga penghujung tahun 2026. Jadwal ini menyusul penutupan masa penawaran ORI030 pada 30 Juli lalu yang berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp 40 triliun.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menyatakan bahwa minat investor terhadap SBN ritel tetap tinggi. Menurutnya, karakteristik ORI yang menawarkan kupon tetap, dijamin negara, serta dapat diperdagangkan di pasar sekunder menjadi daya tarik utama di tengah volatilitas pasar keuangan.

“Tingginya animo investor terhadap ORI030 karena karakteristik ORI yang menawarkan kupon tetap, dijamin pemerintah, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder menjadikannya instrumen yang menarik, khususnya di tengah kondisi pasar keuangan yang masih cukup volatil,” ujar Novi dikutip dari laman resmi otoritas keuangan, Minggu (9/8/2026).

Pemerintah menjadwalkan empat instrumen berikutnya, yakni Sukuk Ritel (SR) seri SR025, Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) Ritel seri SWR007, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017. Jadwal tersebut bersifat tentatif dan dapat disesuaikan dengan kebijakan pemerintah ke depan.

Instrumen terdekat yang akan meluncur adalah SR025, dengan masa penawaran dijadwalkan pada 21 Agustus hingga 16 September 2026. Sebagai instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, SR025 menawarkan fleksibilitas likuiditas bagi pemegang obligasi.

Setelah itu, pemerintah akan merilis SWR007 pada 4 September hingga 21 Oktober 2026. Berbeda dengan SBN konvensional, instrumen ini difokuskan sebagai sarana wakaf uang produktif di mana imbalannya akan disalurkan melalui nazhir untuk mendukung berbagai program sosial kemasyarakatan.

Memasuki akhir kuartal ketiga, pemerintah menyiapkan SBR015 pada 28 September hingga 22 Oktober 2026. Karakteristik utama SBR adalah tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun menawarkan skema kupon floating with floor atau imbal hasil mengambang dengan batas bawah tertentu.

Sebagai penutup rangkaian SBN ritel 2026, pemerintah menjadwalkan penerbitan ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026. Instrumen ini memiliki kemiripan dengan SBR, yakni tidak dapat diperdagangkan dan menggunakan skema imbalan floating with floor.

Pemerintah menargetkan penghimpunan dana melalui SBN ritel sepanjang tahun 2026 berkisar antara Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun. Target ini mencerminkan peran vital SBN ritel dalam mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Investor disarankan untuk mencermati profil risiko dan tujuan investasi masing-masing sebelum memutuskan penempatan dana. Perbedaan mendasar pada mekanisme tradable (dapat diperdagangkan) atau non-tradable (tidak dapat diperdagangkan) menjadi faktor penting dalam menentukan likuiditas portofolio investasi masyarakat hingga akhir tahun nanti.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar