Jakarta – Nilai tukar mata uang lira Turki mencatatkan rekor terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (31/8/2026).
Posisi mata uang tersebut kini telah menembus level 48 per dolar AS.
Depresiasi ini memperpanjang tren pelemahan lira yang telah berlangsung secara bertahap sepanjang tahun.
Secara akumulatif, lira telah kehilangan nilai sekitar 17 persen sejak awal Januari 2026 hingga akhir Agustus ini.
Bank Sentral Turki atau CBRT membiarkan mata uang tersebut melemah secara terkendali.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk meredam volatilitas pasar yang berlebihan.
CBRT menyatakan bahwa mereka terus menggunakan intervensi valuta asing serta berbagai instrumen pendukung lainnya.
Tujuan utama dari kebijakan tersebut adalah membatasi dampak pergerakan nilai tukar terhadap laju inflasi domestik.
Otoritas moneter berupaya menjaga keseimbangan antara membiarkan nilai tukar bergerak dan mendukung proses disinflasi.
Data inflasi konsumen tahunan di Turki menunjukkan tren penurunan tipis menjadi 31,75 persen pada Juli 2026.
Angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan posisi pada Juni 2026 yang berada di level 32,11 persen.
Namun, CBRT memberikan catatan bahwa indikator ekonomi utama menunjukkan adanya kenaikan sementara pada inflasi inti sepanjang Juli.
Tekanan harga di pasar domestik dinilai masih berada pada tingkat yang cukup tinggi.
Akibat kondisi tersebut, CBRT memutuskan untuk merevisi proyeksi inflasi akhir tahun 2026 menjadi 28 persen.
Angka proyeksi terbaru ini mengalami peningkatan dari estimasi sebelumnya yang berada di angka 26 persen.
Penyesuaian target tersebut dipicu oleh tingginya tekanan harga pada sektor energi dan komoditas pangan global.
Di sisi lain, bank sentral tetap mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat untuk menekan laju inflasi.
Kebijakan suku bunga acuan overnight lending dipatok tetap di level 37 persen.
Keputusan tersebut telah diambil selama empat bulan berturut-turut sejak Juli 2026.
Langkah mempertahankan suku bunga ini mencerminkan komitmen bank sentral dalam mengelola stabilitas harga di tengah pelemahan nilai tukar.
Pasar terus memantau efektivitas intervensi valas yang dilakukan otoritas Turki dalam menjaga stabilitas makroekonomi ke depan.
Kondisi ekonomi Turki saat ini masih berada di bawah bayang-bayang tekanan harga yang persisten.
Pemerintah dan otoritas moneter terus berupaya mencari jalan keluar dari tantangan inflasi yang terus membayangi daya beli masyarakat.
Stabilitas lira tetap menjadi fokus utama dalam agenda kebijakan ekonomi nasional Turki di sisa tahun 2026.










