Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026, ditandai dengan pertumbuhan laba periode berjalan sebesar 34% secara tahunan menjadi Rp6,91 triliun.
Pencapaian laba tersebut sejalan dengan peningkatan EBITDA perseroan yang naik 35% year-on-year menjadi Rp9,26 triliun.
Total penjualan bersih perusahaan mencapai Rp62,71 triliun, dengan pasar domestik mendominasi kontribusi pendapatan sebesar 96% atau setara dengan Rp60,15 triliun.
Segmen emas tetap menjadi tulang punggung pendapatan ANTM dengan porsi kontribusi mencapai 80% dari total penjualan.
Penjualan emas tercatat mencapai Rp50,39 triliun, atau naik 1% secara tahunan dengan volume penjualan sebanyak 18.080 kilogram.
Di sisi lain, segmen nikel yang mencakup feronikel dan bijih nikel menyumbang 17% dari total pendapatan, dengan nilai mencapai Rp10,41 triliun atau tumbuh 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Segmen bauksit dan alumina turut mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 28% dengan nilai penjualan Rp1,88 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang, Arini Kasmira, menyatakan bahwa perseroan terus berupaya mengonversi pertumbuhan kinerja tersebut menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
“Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh serta fleksibilitas keuangan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional, mendukung agenda pertumbuhan, dan menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan,” ujar Arini sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi, Jumat (28/8).
Meskipun fundamental perusahaan menunjukkan penguatan, pergerakan harga saham ANTM di Bursa Efek Indonesia justru menunjukkan tren yang tertekan.
Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8), harga saham emiten berkode ANTM tersebut ditutup pada level Rp3.160, turun 0,63% dibandingkan hari sebelumnya.
Harga tersebut masih jauh tertinggal dari level tertinggi tahun ini yang sempat menyentuh kisaran Rp4.600 hingga Rp4.700 per saham.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai prospek ANTM pada semester II-2026 masih tetap positif karena dukungan harga emas yang tinggi.
“Emas memberikan dukungan earnings dalam jangka pendek, sementara nikel dan hilirisasi menjadi sumber pertumbuhan berikutnya,” kata Rully, Minggu (30/8).
Ia menekankan pentingnya bagi ANTM untuk meningkatkan porsi emas dari produksi internal guna memaksimalkan margin perusahaan di tengah tingginya harga komoditas tersebut.
Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham ANTM dengan target harga di angka Rp4.600 per lembar.
Harry memandang ANTM memiliki profil yang defensif, namun tetap mengingatkan investor untuk mencermati risiko koreksi harga emas, fluktuasi harga nikel, serta efektivitas belanja modal dalam proyek-proyek hilirisasi mendatang.












