New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026), meskipun rilis data inflasi konsumen untuk periode Agustus menunjukkan tren kenaikan yang persisten.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau menguat 140,4 poin atau 0,27% ke posisi 52.204,46.
Indeks S&P 500 turut mencatatkan kenaikan sebesar 45,1 poin atau 0,59% menjadi 7.636,75.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite menguat 207,7 poin atau 0,80% ke level 26.289,414.
Kenaikan ini memberikan sedikit sentimen positif bagi Wall Street yang sebelumnya sempat tertekan hebat sepanjang pekan.
Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS mengalami kenaikan 0,4% secara bulanan pada Agustus.
Angka tersebut melampaui pertumbuhan yang tercatat pada Juli sebesar 0,1%.
Secara tahunan, inflasi konsumen tetap berada di level 3,4%, tidak menunjukkan perubahan signifikan dari bulan sebelumnya.
“Angka tersebut masih menunjukkan inflasi yang sulit ditaklukkan,” ujar Joe Saluzzi, Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Saluzzi, data tersebut sesuai dengan perkiraan pasar dan kemungkinan tidak akan memuaskan pihak investor bullish maupun bearish.
Sentimen pasar tetap berada dalam kondisi rapuh karena ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve yang terus berubah.
Para pelaku pasar kini dihadapkan pada tantangan ganda, yakni ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Said Haidar, Founder Haidar Capital Management, menyatakan bahwa The Fed harus segera merespons tekanan inflasi ini untuk mencegah terulangnya inflasi tinggi seperti dekade 1970-an.
Sebelum perdagangan Jumat dimulai, S&P 500 sempat berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak Juni.
Namun, Jeff Schulze, Head Investment Strategist Franklin Templeton Institute, melihat adanya sinyal historis yang cukup optimistis.
Berdasarkan data sejak 1950, indeks S&P 500 cenderung menguat dari September hingga Desember dalam 25 dari 28 kasus, jika indeks tersebut sudah naik lebih dari 10% hingga akhir Agustus.
Di sektor energi, harga minyak mentah menjadi perhatian utama setelah lonjakan harga diesel nasional AS yang menembus US$6 per galon.
Bill Adams, Kepala Ekonom AS Fifth Third Commercial Bank, memperingatkan bahwa kenaikan harga energi sejak awal September meningkatkan risiko inflasi yang lebih luas.
Kondisi ini menambah kompleksitas bagi bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Di sektor korporasi, saham Oracle mengalami lonjakan hampir 7% setelah laporan kinerja kuartalan melampaui ekspektasi pasar.
Hasil positif tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa investasi Oracle di bidang kecerdasan buatan mulai memberikan profitabilitas.
Sebaliknya, saham Adobe tertekan turun lebih dari 3% menyusul proyeksi pendapatan kuartal IV yang dianggap mengecewakan.
Selain itu, aksi korporasi besar turut mewarnai pasar, di mana saham ACV Auctions melonjak sekitar 45% setelah kesepakatan akuisisi oleh Copart senilai US$1,9 miliar.















