Jakarta – Kinerja pasar obligasi korporasi di Indonesia sepanjang tahun 2026 menghadapi tantangan berat dengan tren penerbitan yang belum menunjukkan sinyal pemulihan yang konsisten hingga memasuki bulan September.
Data terbaru dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan total nilai penerbitan surat utang korporasi hingga akhir Agustus 2026 hanya mencapai Rp 120,18 triliun.
Capaian tersebut mencatat penurunan signifikan sebesar 14,54% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sempat menembus angka Rp 140,64 triliun.
Perlambatan aktivitas korporasi dalam mencari pendanaan melalui pasar modal ini terlihat cukup tajam terutama saat memasuki pertengahan tahun 2026.
Pada kuartal pertama tahun ini, nilai penerbitan obligasi sempat mencatat angka Rp 59,35 triliun sebelum akhirnya merosot ke angka Rp 27,99 triliun pada kuartal kedua.
Memasuki semester kedua, sempat muncul optimisme ketika aktivitas penerbitan kembali bergairah pada Juli dengan nilai Rp 24,96 triliun.
Namun, momentum positif tersebut hanya bertahan singkat karena pada Agustus 2026, nilai penerbitan kembali anjlok hingga menyentuh angka Rp 7,87 triliun.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menyatakan bahwa tren penurunan ini dipicu oleh meningkatnya biaya pendanaan serta tingginya volatilitas di pasar keuangan nasional.
“Dalam kondisi seperti ini, perusahaan yang masih memiliki fleksibilitas pendanaan cenderung menunggu timing dan pricing yang lebih baik,” ujar Suhindarto dikutip dari pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (10/9/2026).
Meskipun terjadi perlambatan, Suhindarto menegaskan bahwa kebutuhan mendasar perusahaan seperti refinancing, modal kerja, dan ekspansi investasi tetap menjadi penopang utama pasar obligasi.
Sikap menahan diri dari para emiten dinilai sebagai langkah strategis untuk menjadi lebih selektif dalam menentukan waktu penerbitan surat utang di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pefindo sebelumnya telah memproyeksikan total penerbitan baru surat utang korporasi sepanjang tahun 2026 berada pada rentang Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan angka tengah di Rp 175,77 triliun.
Menanggapi proyeksi tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai target tersebut masih berada dalam koridor yang relevan.
Namun, ia menambahkan bahwa realisasi penerbitan obligasi kemungkinan besar hanya akan menyentuh sisi bawah hingga pertengahan rentang proyeksi tersebut.
“Untuk mendekati Rp 196 triliun akan lebih sulit karena asumsi awal proyeksi dibuat ketika pasar masih mengantisipasi pelonggaran moneter, sementara perkembangan terakhir justru menunjukkan suku bunga acuan dan yield SBN masih tinggi,” terang Yusuf.
Kondisi pasar yang menantang ini memaksa emiten, khususnya mereka dengan peringkat menengah, untuk bersikap lebih berhati-hati.
Banyak emiten saat ini memilih untuk menunda penerbitan surat utang baru atau mengalihkan strategi dengan menerbitkan obligasi bertenor lebih pendek guna meminimalisir risiko biaya dana yang mahal.






















