Strategi Jitu Mengatur Portofolio Investasi ala Direktur Mirae Asset

Kholida Rahman

Strategi Jitu Mengatur Portofolio Investasi ala Direktur Mirae Asset

Jakarta – Pengelolaan portofolio investasi yang sukses tidak sekadar ditentukan oleh pemilihan instrumen populer, melainkan berakar pada kedisiplinan alokasi aset dan pemahaman mendalam terhadap profil risiko pribadi.

Direktur Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tomi Taufan, menegaskan bahwa faktor penentu utama dalam mencapai target finansial adalah kemampuan investor dalam mengelola emosi serta psikologi diri sendiri.

Tomi menceritakan awal mula perjalanannya di pasar modal yang dimulai pada tahun 2012 melalui program Sekolah Pasar Modal.

Pengalaman investasi pertamanya di saham Kalbe Farma memberikan keuntungan signifikan sebesar 20%, yang kemudian diikuti oleh keberhasilan serupa di sektor konstruksi.

Namun, ia mengakui bahwa kemudahan mendapatkan keuntungan di awal justru menjadi jebakan psikologis yang berbahaya bagi investor pemula.

“Saya pikir wah main saham tuh gampang, enak gitu kan. Sekali dapat return, dua kali dapat return, besok-besok penginnya porsinya nambah. Eh akhirnya malah loss, habis lagi,” kenang Tomi, Sabtu (12/9/2026).

Kegagalan tersebut menjadi titik balik baginya untuk mengevaluasi strategi investasi secara menyeluruh.

Ia mulai menyadari bahwa pergerakan pasar saham bersifat tematik dan dinamis, di mana rotasi sektor seperti kesehatan, energi, hingga pertambangan terjadi secara berkelanjutan.

Kesadaran akan volatilitas pasar inilah yang mendorongnya beralih dari strategi spekulatif menuju pendekatan diversifikasi yang lebih terukur.

Seiring bertambahnya kesibukan profesional, ia menyadari bahwa instrumen saham memerlukan pemantauan intensif yang tidak lagi relevan dengan ketersediaan waktunya.

Tomi kemudian menekankan pentingnya pengenalan diri sebelum menentukan instrumen investasi yang akan digunakan.

“Makanya yang paling penting adalah harus tahu dulu siapa diri kita,” ujar Tomi, dikutip dari laman resmi perusahaan, Sabtu (12/9/2026).

Strategi investasinya kemudian bergeser drastis saat masa pandemi Covid-19, di mana ia melihat peluang pada sektor properti.

Ia mulai mengalihkan fokus ke aset tanah dan bangunan di wilayah Bekasi karena pertimbangan harga yang masih terjangkau dibandingkan kawasan ibu kota lainnya.

Saat ini, portofolio pribadi Tomi didominasi oleh aset properti sebesar 70%, sementara sisanya terbagi dalam emas sebesar 10%, dan instrumen reksa dana.

Keputusan menempatkan porsi besar pada properti didasari oleh tujuannya dalam menciptakan sumber pendapatan pasif yang stabil.

Untuk instrumen emas, ia menerapkan metode dollar-cost averaging (DCA) agar akumulasi aset tetap berjalan konsisten tanpa terpengaruh fluktuasi harga harian.

Sementara itu, reksa dana yang dipilihnya difokuskan pada produk pendapatan tetap berbasis Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar uang.

Instrumen tersebut berfungsi sebagai penyeimbang guna menjaga stabilitas portofolio dari risiko aset yang lebih volatil.

Ke depan, ia tetap membuka peluang untuk kembali masuk ke pasar saham dengan alokasi terbatas antara 5% hingga 10%.

Namun, langkah tersebut akan diambil dengan syarat adanya peningkatan cadangan di reksa dana sebagai bentuk lindung nilai atau hedging.

Prinsip utamanya tetap konsisten, yakni tidak ada instrumen investasi yang mutlak buruk atau super, melainkan hanya kecocokan antara produk dengan karakter investor.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar