Rupiah Menguat Tipis, Simak Proyeksi Pergerakannya di Pekan Depan

Kholida Rahman

Rupiah Menguat Tipis, Simak Proyeksi Pergerakannya di Pekan Depan

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan signifikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026).

Meskipun melemah di penghujung pekan, rupiah masih mencatatkan apresiasi sebesar 0,18% secara tahun berjalan atau year-to-date.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia turut mengonfirmasi tren pelemahan tersebut.

JISDOR menempatkan posisi rupiah di angka Rp 17.611 per dolar AS pada Jumat, atau terkoreksi sebesar 0,43% dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam hitungan sepekan, kurs referensi JISDOR menunjukkan rupiah telah tertekan sebesar 0,14%.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa pergerakan mata uang domestik dipengaruhi oleh penilaian ulang pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.

Sentimen negatif muncul setelah rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS bulan Agustus yang melonjak hingga 5,4% secara tahunan.

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus level US$ 100 per barel turut memperberat beban ekonomi nasional.

“Sentimen utama pekan ini bukan hanya risiko global, melainkan adu kuat antara shock eksternal dan carry domestik,” ujar Syafruddin, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, kenaikan harga energi memicu kekhawatiran mengenai potensi pelebaran defisit transaksi berjalan dan inflasi impor.

Tingginya imbal hasil US Treasury juga menjadi faktor pendorong penguatan dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang.

Kendati berada di bawah tekanan eksternal, rupiah dinilai masih memiliki bantalan yang cukup kuat dari sisi fundamental domestik.

Posisi cadangan devisa Indonesia per Agustus 2026 yang mencapai US$ 146,5 miliar menjadi penyangga utama stabilitas mata uang.

Selain itu, minat investor asing untuk menanamkan modal di pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih terpantau cukup tinggi.

Syafruddin menambahkan bahwa kebijakan suku bunga BI Rate di level 5,75% memberikan ruang yang cukup bagi strategi carry trade.

Daya tarik imbal hasil SBN domestik masih mampu menjaga arus modal asing di tengah volatilitas pasar global yang terus membayangi.

Untuk pekan mendatang, pergerakan rupiah diprediksi akan bergantung pada rilis data inflasi (CPI) AS dan hasil rapat FOMC The Fed.

Dinamika harga minyak mentah dunia juga akan menjadi variabel krusial yang menentukan arah mata uang nasional.

Syafruddin memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.400 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada periode 11–18 September 2026.

Area perdagangan utama diperkirakan berada di kisaran Rp 17.450 hingga Rp 17.700 per dolar AS.

“Jika CPI AS tinggi, FOMC hawkish, Brent bertahan di atas US$ 105, dan arus SBN berbalik keluar, USD/IDR dapat menguji Rp 17.850 – Rp 18.000,” ungkap Syafruddin dalam analisisnya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar