Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan terus mengalami fluktuasi pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026).
Sentimen utama yang membayangi pasar keuangan domestik adalah sikap antisipatif investor menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September 2026.
Pelaku pasar saat ini memilih untuk mengambil posisi wait and see atau menahan diri dalam melakukan transaksi besar.
Kondisi ini merupakan respons langsung terhadap ketidakpastian kebijakan suku bunga yang akan diputuskan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Data perdagangan terakhir pada Jumat (11/9) mencatat rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan pelemahan lebih dalam, yakni 75 poin atau 0,43% ke posisi Rp17.611 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti adanya tekanan eksternal berat yang membebani mata uang Garuda saat ini.
Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia hingga menembus angka US$100 per barel.
Lonjakan harga energi ini secara tidak langsung mendongkrak kekhawatiran terhadap inflasi global serta menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
“Fokus utama investor global tertuju pada rilis data ekonomi penutup AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed jelang Rapat Dewan Gubernur (FOMC) pada 16–17 September 2026,” ujar Rahma dalam keterangannya, Jumat (11/9).
Selain faktor geopolitik, tekanan domestik juga muncul dari aksi jual bersih investor asing di pasar saham nasional.
Permintaan valuta asing dari badan usaha milik negara (BUMN) sektor energi untuk kebutuhan impor awal pekan turut mempersempit ruang gerak rupiah.
Kendati demikian, otoritas moneter diperkirakan akan tetap menjaga stabilitas pasar agar volatilitas tidak semakin tajam.
Rahma menegaskan bahwa Bank Indonesia memiliki instrumen yang cukup kuat untuk melakukan intervensi jika diperlukan.
“Langkah-langkah stabilisasi lanjutan dari Bank Indonesia, termasuk melalui instrumen operasi moneter seperti OPT valas, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pemanfaatan cadangan devisa yang berada di posisi solid US$146,5 miliar itu akan terus diandalkan untuk meredam volatilitas tajam,” jelas Rahma.
Kekuatan cadangan devisa yang mencapai US$146,5 miliar menjadi bantalan penting dalam menjaga kepercayaan pasar.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, rupiah diproyeksikan akan bergerak pada rentang Rp17.580 hingga Rp17.680 per dolar AS.
Kombinasi antara sentimen kebijakan moneter global dan kebutuhan likuiditas korporasi dalam negeri menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar hingga pertengahan pekan depan.





















