Jakarta – PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) berkomitmen memperkuat langkah strategisnya di sektor energi baru dan terbarukan dengan menyiapkan alokasi dana sebesar Rp 131 miliar hingga kuartal kedua 2028.
Anggaran tersebut difokuskan untuk mendanai proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) yang tersebar di wilayah Denpasar Raya, Bali, dan Bogor Raya, Jawa Barat.
Direktur Utama SOFA, Denny Rizal, menjelaskan bahwa perseroan melalui anak usahanya, PT Ananta Energi Asia (AEA), akan segera menyuntikkan modal awal senilai US$ 200.000 atau sekitar Rp 3,36 miliar.
Dana awal ini ditujukan bagi dua entitas konsorsium, yakni PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG).
Kedua entitas tersebut merupakan perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh perusahaan pengelolaan lingkungan asal Cina, Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd.
“Selanjutnya, WNA dan WNG akan melakukan peningkatan modal secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pendanaan proyek selama periode konstruksi,” ungkap Denny dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin (21/9).
Guna mendukung kebutuhan pendanaan tersebut, SOFA berencana melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.
Manajemen perseroan dijadwalkan menyampaikan pernyataan pendaftaran rights issue tersebut pada kuartal keempat tahun 2026.
Selain rights issue, perseroan juga membuka opsi pendanaan melalui pinjaman bank atau kombinasi dari kedua instrumen keuangan tersebut.
Proyek WtE ini diproyeksikan mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada kuartal kedua 2028.
Target tersebut sejalan dengan perjanjian jual beli listrik dengan PT PLN (Persero) yang memiliki durasi kontrak selama 30 tahun sejak COD.
Untuk proyek WtE Denpasar Raya, kesepakatan dengan PLN telah resmi ditandatangani pada 8 Juli 2026.
Sementara itu, proyek WtE Bogor Raya saat ini masih dalam tahap penelaahan dan ditargetkan rampung pada awal kuartal keempat 2026.
Di sisi lain, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, memandang rencana ini sebagai langkah ekspansi yang krusial bagi transformasi bisnis SOFA.
Menurutnya, dukungan terhadap proyek ini sangat menarik karena masuk dalam kategori proyek prioritas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
“Proyek ini sangat menarik karena merupakan bagian dari proyek prioritas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Selain itu, fondasi bisnisnya sudah sangat kuat dengan dikantonginya kontrak jangka panjang pembelian daya bersama PLN selama 30 tahun,” ujar Azharys, Senin (21/9).
Namun, ia mengingatkan bahwa investor perlu bersabar karena kontribusi finansial proyek ini belum akan terasa dalam jangka pendek.
“Mengingat target operasional komersial baru dipatok pada Tahun 2028, proyek ini belum akan memberikan kontribusi signifikan terhadap lonjakan laba maupun pendapatan pada tahun 2027,” tambahnya.
Azharys menyarankan agar pasar melihat langkah rights issue ini sebagai bagian dari siklus belanja modal perusahaan untuk mendukung transisi bisnis jangka panjang.
Sebagai informasi, SOFA tengah melakukan transformasi besar-besaran dari sebelumnya bergerak di industri furnitur menjadi perusahaan yang fokus pada sektor energi terbarukan.
Selain proyek WtE, perseroan berencana menambah kegiatan usaha di bidang aktivitas perusahaan induk dan pembiayaan conduit guna memperluas arus kas melalui dividen serta hasil investasi.




















