New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026), seiring dengan bangkitnya optimisme investor terhadap sektor teknologi dan penurunan harga komoditas energi.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau naik 254,1 poin atau 0,49 persen ke posisi 51.936,76.
Indeks S&P 500 turut menguat 42,3 poin atau 0,55 persen menjadi 7.692,83.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mencatatkan performa paling impresif dengan kenaikan 200,6 poin atau 0,76 persen ke level 26.723,19.
Sentimen positif utama datang dari sektor kecerdasan buatan (AI) yang kembali memimpin pasar.
Kekhawatiran investor mengenai besarnya biaya pengembangan teknologi AI yang sempat memicu aksi jual pekan lalu kini dilaporkan mulai mereda.
Saham Intel melonjak 5,7 persen, sementara Marvell mencatatkan kenaikan sebesar 2,8 persen.
Meta Platforms dan Dell masing-masing menguat sekitar 2,3 persen pada sesi pra-perdagangan.
Perusahaan Accenture juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 4,6 persen.
Pertumbuhan tersebut dipicu oleh kemitraan strategis Accenture dengan Anthropic, di mana perusahaan berkomitmen menginvestasikan US$2 miliar untuk pengembangan evaluasi AI, sebagaimana dilansir dari Reuters pada Senin (21/9/2026).
Di sisi komoditas, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan lebih dari 2 persen ke level terendah dalam 11 hari terakhir.
Pelemahan harga energi ini dipicu oleh adanya indikasi kemajuan dalam negosiasi konflik di Timur Tengah.
Penurunan harga minyak memberikan dampak domino positif bagi sektor transportasi yang sensitif terhadap biaya bahan bakar.
Saham Delta Air Lines dan American Airlines masing-masing menguat sekitar 1,8 persen di awal perdagangan.
Selain itu, penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi, yang berdampak pada penurunan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hingga di bawah level 5 persen.
Meskipun pasar saham menguat, investor tetap bersikap waspada terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 50 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan depan, merujuk pada data CME FedWatch.
Ketidakpastian ini diperkuat oleh pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee.
“Tidak ada ambiguitas mengenai perlunya suku bunga yang lebih tinggi jika tekanan inflasi terbukti berasal dari kuatnya permintaan,” ujar Goolsbee dikutip dari Reuters, Senin (21/9/2026).
Investor kini menantikan arahan dari sedikitnya 10 pejabat bank sentral AS yang dijadwalkan akan memberikan keterangan sepanjang pekan ini.
Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik turut menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaan untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB.
Pasar juga menanti hasil pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Kamis mendatang, yang diprediksi akan membahas kebijakan perdagangan dan regulasi AI.
Di pasar kripto, Bitcoin kembali menunjukkan kekuatannya dengan kenaikan 5,1 persen ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Tren ini turut mendongkrak saham perusahaan terkait kripto seperti Coinbase dan Strategy yang masing-masing menguat lebih dari 5 persen.























