Jakarta – Harga perak mencatatkan kinerja negatif yang lebih tajam dibandingkan emas selama periode September 2026.
Data pasar menunjukkan perak spot ditutup pada level US$ 60,3626 per ons troi per Jumat (2/10/2026).
Nilai tersebut mencerminkan penurunan sebesar 6,06% dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Secara bulanan, komoditas logam ini bahkan telah terkoreksi hingga 9,85%.
Sebagai perbandingan, harga emas spot berada di posisi US$ 4.141,19 per ons troi.
Emas mencatat pelemahan bulanan sebesar 5,49% dan penurunan mingguan sebesar 3,35%.
Perbedaan performa ini menyoroti kerentanan unik yang dimiliki oleh perak di pasar global.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa perak memiliki karakteristik ganda.
“Perak ikut terpukul lebih keras karena sifat gandanya sebagai logam moneter dan industri,” ujar Sutopo dikutip dari laporan resmi perusahaan, Jumat (2/10/2026).
Fungsi ganda ini membuat perak sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi makro.
Sutopo menambahkan bahwa kondisi dolar Amerika Serikat yang kuat serta imbal hasil riil yang tinggi menjadi beban utama bagi aset logam mulia.
Untuk perak, risikonya bahkan lebih besar karena selain tertekan oleh faktor moneter, permintaan industrinya juga ikut mencerminkan kondisi ekonomi.
Selama kebijakan moneter ketat masih berlangsung, ruang gerak perak dinilai cukup terbatas.
Namun, prospek pemulihan perak tetap terbuka lebar apabila terdapat perubahan kebijakan dari Federal Reserve (The Fed).
Pasar saat ini tengah memantau ketat data inflasi serta angka ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Indikator ekonomi tersebut akan menjadi acuan utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.
“Perak adalah opsi berisiko tinggi. Jika The Fed berhenti mengetat, perak biasanya memantul paling kencang, tetapi jika tidak, ia yang paling dalam jatuh,” kata Sutopo.
Ia menekankan bahwa arah dolar AS dan yield riil akan menjadi penentu utama volatilitas harga di bulan Oktober.
Jika kedua indikator tersebut mulai melandai, perak diprediksi memiliki potensi untuk melakukan rebound yang lebih agresif dibandingkan emas.
Untuk sisa tahun 2026, harga perak diproyeksikan akan bergerak pada rentang US$ 54 hingga US$ 66 per ons troi.
Level support saat ini berada di kisaran US$ 58 hingga US$ 60 per ons troi.
Sementara itu, level resistance dipetakan berada pada kisaran US$ 64 hingga US$ 66 per ons troi.
Dalam skenario optimis, harga perak berpotensi menyentuh level US$ 68 hingga US$ 72 per ons troi.
Kondisi tersebut dapat tercapai jika The Fed menghentikan pengetatan moneter dan indeks dolar AS melemah.
Sebaliknya, tekanan jual berisiko meningkat jika indeks dolar AS (DXY) berhasil menembus level 102-103.
Situasi tersebut dapat menyeret harga perak ke level US$ 50 hingga US$ 55 per ons troi.


















