Jakarta – Pasar modal domestik bersiap menghadapi volatilitas tinggi menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026 di Amerika Serikat.
Keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menjadi faktor penentu utama bagi aliran modal asing di pasar saham Indonesia.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menyatakan bahwa kondisi geopolitik global saat ini memberikan tekanan signifikan terhadap arah suku bunga The Fed.
Salah satu pemicu utamanya adalah lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Iran yang semakin memanas.
Menurut Teguh, situasi ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya ketika Presiden AS Donald Trump kerap melakukan intervensi diplomatik untuk meredam konflik.
“Artinya, pada titik ini harga minyak ini kayaknya sudah lepas, enggak akan ditahan-tahan lagi, bisa naik tinggi banget,” ujar Teguh, Minggu (13/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa perhatian pemerintah AS saat ini lebih terfokus pada agenda pemilihan umum sela atau midterm election yang akan digelar November mendatang.
Fokus politik domestik AS tersebut membuat upaya mediasi internasional atas konflik di Timur Tengah terabaikan, sehingga harga komoditas energi diprediksi terus meroket.
Selain kenaikan harga minyak, data inflasi AS yang tetap berada di level tinggi turut memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan menempuh kebijakan kenaikan suku bunga acuan.
Kondisi tersebut secara langsung dapat menekan pasar saham AS dan memicu pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS.
Teguh memprediksi adanya potensi koreksi teknikal pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek akibat tekanan eksternal tersebut.
Koreksi ini dinilai wajar mengingat IHSG telah mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1.400 poin sejak titik terendah pada Juni lalu.
“Bahan sentimennya untuk koreksi itu sudah ada, yaitu dari luar negeri,” ucap Teguh.
Ia memperkirakan indeks memiliki peluang untuk bergerak turun menuju level 6.000 hingga 6.200 sebelum melanjutkan tren penguatan kembali.
Pola pergerakan ini dianalogikan dengan kondisi pasar pada tahun 2020, di mana setelah terjadi kenaikan tajam, pasar sempat mengalami koreksi sehat sebelum akhirnya kembali melesat hingga akhir tahun.
Meskipun terdapat bayang-bayang koreksi jangka pendek, Teguh tetap memproyeksikan IHSG mampu menembus level 7.000 hingga 7.200 pada akhir 2026.
Keyakinan tersebut didasarkan pada fundamental ekonomi dalam negeri yang tetap terjaga, kinerja emiten yang solid, serta data inflasi domestik yang stabil.
Faktor-faktor domestik, seperti potensi kebijakan harga bahan bakar minyak dan penanganan dampak lingkungan, akan menjadi perhatian investor selain agenda FOMC yang bersifat sementara.





















