BEI Tegaskan Fundamental Pasar Modal Tetap Kuat Meski IHSG Melemah

persen

bei-respons-soal-ihsg-ambrol-nyaris-5-persen
BEI Respons soal IHSG Ambrol Nyaris 5 Persen

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa fundamental pasar modal tanah air masih dalam kondisi solid, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual hingga hampir 5 persen dalam dua hari terakhir.

Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa kinerja emiten sepanjang kuartal I 2026 menjadi bukti ketahanan pasar. Tercatat, sebanyak 80 persen perusahaan yang melantai di bursa berhasil membukukan laba bersih.

“Ini adalah persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen perusahaan yang mencetak laba, sementara pada 2021-2025 angkanya berkisar antara 73 hingga 76 persen,” ujar Jeffrey di Jakarta, Kamis (4/6).

Selain itu, Jeffrey menyoroti pertumbuhan laba bersih emiten pada kuartal I 2026 yang melonjak 29,9 persen secara tahunan (year-on-year). Ia menilai capaian ini menjadi sinyal positif bagi investor di tengah fluktuasi pasar.

Guna menjaga stabilitas pasar, BEI memastikan sejumlah kebijakan protektif tetap berlaku. Jeffrey menegaskan bahwa aturan mengenai pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta larangan praktik short selling masih terus dijalankan.

Terkait kekhawatiran investor mengenai posisi Indonesia dalam indeks global, Jeffrey meminta pelaku pasar untuk tetap tenang dan mengacu pada data yang akurat. Ia optimistis Indonesia akan mempertahankan posisinya dalam daftar emerging market versi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Terkait dengan MSCI, yang dapat kami sampaikan adalah bahwa dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di emerging market,” pungkasnya.

Rekomendasi