BI Optimistis Rupiah Menguat ke Rp16.500 per Dolar AS Tahun Ini

persen

Jakarta – Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat ke level Rp 16.500 per dolar AS pada tahun ini. Meskipun saat ini mata uang nasional masih berada dalam tekanan akibat faktor global dan permintaan valuta asing yang tinggi, otoritas moneter meyakini kondisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalue.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini bersifat sementara karena dipicu pola musiman tingginya permintaan dolar AS pada periode April hingga Juni. Ia memproyeksikan setelah melewati periode permintaan tinggi tersebut, rupiah memiliki potensi besar untuk mengalami apresiasi.

BI menargetkan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun berada di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS. Untuk mencapai target tersebut, BI terus mengoptimalkan instrumen kebijakan dan menjalankan tujuh langkah strategis guna menjaga stabilitas pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menambahkan bahwa pelemahan rupiah saat ini didorong oleh kebutuhan devisa musiman, seperti pembayaran dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri korporasi, hingga kebutuhan untuk ibadah haji dan umrah. Menurutnya, tekanan tersebut lazimnya akan mereda setelah Juni, sehingga rupiah berpeluang menguat kembali pada Juli dan Agustus.

Perry menegaskan bahwa tekanan yang dihadapi rupiah saat ini bukan merupakan fenomena tunggal yang dialami Indonesia. Faktor global seperti konflik di Timur Tengah, meningkatnya risiko geopolitik, serta kenaikan harga minyak dunia dan yield US Treasury yang mencapai 4,6-4,7 persen, turut menekan mata uang di hampir seluruh negara di dunia.

Meski demikian, BI tetap berkomitmen untuk terus mencermati perkembangan global dan menjaga fundamental ekonomi nasional tetap kuat agar sesuai dengan proyeksi makroekonomi yang telah ditetapkan. Perry menekankan bahwa berdasarkan pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya, fluktuasi nilai tukar yang terjadi saat ini tetap berada dalam kendali otoritas.

Rekomendasi