Jakarta – Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, membagikan pengalaman historis dalam menangani krisis ekonomi dan lonjakan inflasi kepada Presiden Prabowo Subianto. Diskusi tersebut berlangsung dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5), yang dihadiri sejumlah menteri dan ekonom senior.
Dalam pertemuan tersebut, Burhanuddin menekankan pentingnya merefleksikan peristiwa ekonomi tahun 2005 sebagai pelajaran berharga menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Ia menyoroti kemiripan dampak eksternal terhadap stabilitas ekonomi, meski akar penyebab kenaikan harga energi berbeda dengan masa lalu.
Burhanuddin menjelaskan, Presiden Prabowo menginginkan langkah kebijakan pemerintah disampaikan dengan lebih transparan kepada publik dan pasar. Hal ini mencakup penjelasan detail mengenai tantangan yang dihadapi, langkah strategis yang sedang ditempuh, serta posisi terkini perekonomian nasional.
Meskipun nilai tukar rupiah sempat menjadi sorotan, Burhanuddin membantah adanya pembahasan spesifik mengenai pelemahan mata uang tersebut. Ia justru menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selaras. Ia menilai, langkah Bank Indonesia saat ini dalam menjaga stabilitas melalui suku bunga acuan sudah berada di jalur yang tepat.
Ia menambahkan, meski rupiah berada di kisaran Rp 17.700 per dolar AS, secara persentase depresiasi saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan krisis ekonomi masa lalu. Menurutnya, pemahaman publik mengenai skala perbandingan krisis ini perlu diperjelas agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan jajarannya untuk menindaklanjuti masukan dari Burhanuddin dan para ahli ekonomi lainnya. Pemerintah mengakui adanya tekanan dari sisi persepsi pasar, meskipun fundamental ekonomi nasional dinilai sangat kuat.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah kini fokus memonitor regulasi untuk memperkuat ketahanan finansial. Fokus utama mencakup penguatan permodalan perbankan demi menjaga prinsip kehati-hatian di tengah dinamika ekonomi global.
Selain Airlangga dan Purbaya, pertemuan strategis ini juga dihadiri oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, mantan Wakil Menteri Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo, serta ekonom Paskah Suzetta.


















