Defisit Transaksi Berjalan Membengkak, Capai Level Terdalam Sejak 2019

persen

Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja transaksi berjalan pada kuartal I-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 4 miliar atau setara dengan 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian ini menjadi angka defisit terdalam sejak kuartal IV-2019 yang kala itu mencapai US$ 8,1 miliar.

Posisi tersebut tercatat melebar dibandingkan kuartal sebelumnya, yakni kuartal IV-2025, yang membukukan defisit sebesar US$ 2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB.

Dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I-2026, BI menjelaskan bahwa pelebaran defisit dipicu oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang di tengah penyempitan defisit neraca jasa.

Surplus neraca perdagangan barang pada kuartal I-2026 turun menjadi US$ 8 miliar. Sebagai perbandingan, pada kuartal IV-2025, surplus neraca perdagangan barang masih berada di angka US$ 10,2 miliar. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya kinerja ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga mengalami pelebaran menjadi US$ 9,2 miliar dari sebelumnya US$ 9,1 miliar pada kuartal IV-2025. Hal ini didorong oleh rendahnya pendapatan atas imbal hasil nonresiden yang dibarengi dengan peningkatan pembayaran imbal hasil investasi portofolio.

Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan pertama tahun ini mencatatkan defisit sebesar US$ 9,1 miliar. Angka ini berbalik arah drastis dibandingkan kuartal IV-2025 yang sempat mencatatkan surplus sebesar US$ 6,1 miliar.

Sementara itu, untuk transaksi modal dan finansial, BI mencatat adanya defisit sebesar US$ 4,9 miliar pada periode kuartal I-2026.

Rekomendasi